oleh

SMPN 10 Simulasi Tatap Muka

PRABUMULIH – Jelang pelaksanan penerapan pembelajarna secara tatap muka, SMPN 10 Prabumulih mulai melakukan simulasi pembelajaran tatap muka di Sekolah, sejak Senin kemarin.

Untuk pertama kali masuk berdasarkan hasil musyawarah dengan para orang tua wali siswa, yangmasuk pertama adalah seluruhsisw akelas 7 selama satu minggu ini.

Lalu kemudian akan dilanjutkan dengan giliran kelas 8 pada minggu berikutnya. Hal ini dilakukan dalam rangka menilai kesiapan pihak sekolah dalam menerapkan protokol kesehatan secara maksimal.

“Karena kelas 9 sudah menunggu kelulusan saja, jadi kita mencoba atau mengelar simulasi tatap muka untuk kelas 7 dan kelas 8 secara bergantian selama satu minggu dalam jaringan dan satu minggu lagi tatap muka di sekolah,” jelas Kepala Sekolah SMPN 10 Prabumulih, M Thamrin SPd MSi.

Thamrin mengatakan, sebelum menerapkan simulasi ini, pihaknya sudah mendapatkan persetujuan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Prabumulih, dan persetujuan dari orang tua yang memang sudah lama mengharapkan anak didik sekolah secara tatap muka.

“Di Kecamatan Cambai, tidak sama seperti sekolah di dalam kota, anak-anak yang bias mengikuti pembelajaran daring secara maksimal itu tidak banyak. Karena itu banyak orang tua meminta tatap muka menjadipertimbangan bagi kita,” jelasnya.

Lebih jauh, pria ini mengatakan, selama para siswa berada di lingkungan sekolah, tidak ada kerumunan, tidak ada jam istirahat dan antar jemput orang tua di luar pagar. Keluar masuk lingkungan sekolah langsung mencuci tangan serta keluar secara bergantian.

“Alhamdulillah selama tiga hari ini semuanya sudah tertib dan berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Semoga pelaksanaan pembelajan secara tatap muka ini dapat memberikan efek baik terhadap kegiatan belajar mengajar para siswa di sekolah,” harapnya.

Sementara salah seorang guru SMPN 10, Erika mengatakan bahwa pihaknya sangat merindukan tatap muka dengan siswa. Apalagi saat ini siswa kelas 7 sudah hamper naik kelas, dan selama hamper dua semester ini menerapkan pembelajaran dari jarak jauh.

“Meskipun harus mengajar dari jarak jauh dan tatap muka, namun para guru kembali dapat mengajar seperti biasa meskipun jumlah siswa dalam kelas hanya maksimal 15 orang,” jelasnya.

Lanjutnya, dimasa seperti sekarang ini pihak sekolaht idak bias memaksakan kehendak orang tua dan siswa. Jika ada yang tidak mau belajar di sekolah itu tidak masalah. “Selama belajar pada masa simulasi seperti sekarang ini, kita tidak boleh memberi tugas. Jam belajar juga terbatas, selain pandemi juga saat ini berada pada bulan ramadhan,” tandasnya. (05)

Komentar

News Feed