oleh

MEMPERSEPSI PERJUANGAN KARTINI

DALAM PEMBELAJARAN ERA COVID-19

Oleh:

Isnawijayani

Profesor Ilmu Komunikasi

Universitas Bina Darma Palembang

PERSEPSI dapat dipandang sebagai ilmu komunikasi,  jika persepsi kita tidak akurat, maka menyebabkan  tidak mungkin kita berkomunikasi dengan efektif. Persepsi merupakan  inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interpretasi) adalah inti persepsi. Tahap  terpenting dalam persepsi adalah interpretasi atau informasi yang kita peroleh melalui salah satu atau lebih indra kita

Berkomunikasi tidak harus bertemu dan bertatap muka tapi dapat juga dilakukan dengan bermedia. Sekarang bermedia baru dengan menggunakan berbagai fasilitas modern canggih dihubungkan dengan internet yang sangat cepat   dapat berkomunikasi. Kalau dulu berkomunikasi secara konvensional  dengan  berkirim  surat yang  memerlukan waktu. Komunikasi konvnsional ini  dilakukan ibu kita kartini dalam belajar dan menambah wawasannya. Ibu Kartini mmperjuangkan pendidikan dan emansipasi kaum wanita.

Kartini lahir  21 April 1879 dan meninggal  17 September 1904. Saat usianya 12 tahun ia dipingit karena harus mempersiapkan diri untuk dinikahkan. Dirumah ia mulai menulis surat kepada teman-temannya. Disamping ia juga membaca buku, Koran dan majalah yang terbit di Semarang dan dari Belanda, yang membuatnya tertarik pada pikiran maju perempuan eropa. Dari sinilah muncul keinginana untuk memajukan perempuan pribumi yang masa itu status sosialnya sangat rendah. Ia juga rajin mengirimkan tulisannya dan beberapa kali dimuat di De Hollandsche Lelie.

Walau hanya hidup 25 tahun tapi hingga kini Kartini tetap meninggalkan warisan perjuangan  kaum wanita untuk selalu maju.  Ia dapat mengekspresikan keinginan untuk maju dengan melakukan surat-menyurat berkorespondensi dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri. Surat terakhir Ia tulis tepat sepuluh hari sebelum meninggal. Setelah ia wafat, Pemikirannya kemudian dibukukan oleh Mr. JH, Abendanon diberi judul Door Duisternis Tot Lcht, yang dikenal dengan buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini berpesan “Jadilah manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi Wanita sepenuhnya”. Wanita yang sudah maju dan modern tetaplah jadi wanita dengan kodratnya.

Orang tidak pernah menduga apa yang akan terjadi saat terdengar adanya pandemi global untuk penyakit virus Corona 2019 (Covid 19) dimana warga diseluruh dunia berpotensi terkena virus ini.  Ketika virus ini masuk ke Indonesia  pemerintah mengharuskan Work from home untuk memutus mata rantai Covid 19 merajalela. Jika kegiatan tidak benar-benar penting, kegiatan dilaksanakan di rumah saja. Hal ini merupakan implementasi protokol kesehatan yang disampaikan Badan Kesehatan Dunia (WHO), yang dikukuhkan dengan kebijakan pemerintah melalui social distancing dan phsysical distancing melalui pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang tertuang di PP No 21 Tahun 2020. Dalam satu tahun  terakhir ini, aktivitas bekerja, belajar, dan beribadah di rumah telah dilakukan sebagian masyarakat Indonesia.

Bagi remaja SMP/ SMA dan mahasiswa belajar dari rumah tinggal beradptasi saja tapi bagi anak murid sekolah dasar masih harus didampingi orangtua atau yang lebih dominan adalah ibunya. Dalam dua semester terakhir ibu-ibu muda kita harus  mendampingi putra-putrinya belajar di rumah (pembelajaran daring dalam jaringan). Tak sedikit protes bermunculan dari ibu-ibu karena beban tugas bagi anak didik yang dirasa memberatkan dirinya. Maklum saja, pembelajaran dalam jaringan (daring), peran orangtua cukup vital. Dalam praktiknya, guru memberi panduan pembelajaran, kemudian siswa mengerjakan tugas yang telah diberikan. Nah, dalam proses pembelajaran itulah peran ibu-ibu menjadi penghubung antara guru dan siswa. Ibu berperan ganda, mengasuh sekaligus sebagai pendidik dan guru bagi anakanaknya

Peran ibu dalam aktivitas belajar di rumah sangat menentukan kesuksesan proses pembelajaran jarak jauh ini. Di sinilah relevansi perempuan Indonesia harus memiliki pengetahuan yang memadai dan paling tidak setara dengan kaum laki-laki. Atau selalu mengupdate dirinya dalam memberi pelajaran bagi anaknya. Tingkat Pendidikan yang dimiliki ini  untuk semua (education for all) harus senantiasa disuarakan dan diimplementasikan di lapangan.

Betapa tidak, selama ini para ibu belum pernah terbebani, sekarang secara tidak langsung mengharuskan mereka menjadi guru dan sekaligus murid karena semua proses belajar mengajar dirumah menjadi tanggungjawabnya. Bahkan dalam pengamatan ada ibu-ibu yang mengorbankan dirinya berhenti bekerja hanya untuk mendampingi anak sekolah dan belajar di rumah. Disisi lain nasib kurang beruntung kalau suami tercinta dirumahkan, statusnya masih karyawan tetapi tidak mendapat gaji. Dalam hal belajar dirumah  tentu saja memerlukan biaya tambahan. Maka menjadi sangat penting peran seorang ibu dalam rumah tangga.  Belum lagi perilaku anak-anak yang terlihat manja saat mengerjakan tugas. Tetapi ada juga anak yang dapat belajar dirumah dengan baik.

Tidak menutup kemungkinan akhirnya tugas-tugas sekolah benyak dikerjakan ibunya. Sementara anak dalam perkembangannya memerlukan perhatian khusus. Perlu bersosialisasi dengan teman-temannya, bermain dan berempati. Ada juga kaum ibu yang menyerah untuk dapat aktf mendampingi anaknya, jika mampu akan mengundang guru datang kerumah. Jika tidak mampu maka pembelajaran anak akan kurang sempurna.

Kalau kondisi ini berlangsung lama akan membawa dampak bahwa pembelajaran tidak membawa hasil maksimal. Ada juga sekolah yang berani sudah membuka kelas seminggu 3 kali masuk dan kelas dibagi menjadi 2 kali masuk. Melihat keadaan ini sangatlah dimaklumi jika mereka sangat mengharapkan Covid ditangani dan sekolah masuk kembali seperti biasa.

Pemerintah RI dalam mengantisipasi lamanya kita bekerja dirumah mulai Maret 2021 memberikan  vaksin COVID-19 secara bertahap dan berkesinambungan. Dengan harapan  melindungi tubuh dengan menciptakan respons antibodi di tubuh tanpa harus sakit karena virus corona. Vaksin dapat mencegah tubuh dari sakit parah atau potensi hadirnya komplikasi serius. Jika vaksin ini sudah merata maka besar kemungkinan sekolah dapat dibuka kembali.

Disinilah diperlukan tingkat persepsi dan komunikasi kaum ibu tentang anak dan memiliki kesanggupan mendidik dan membelajar saat terjadi Pandemi Covod-19. Melihat kondisi seperti ini kaum ibu kaum wanita ataupun kaum perempuan harus dapat mempersepsi perjuangan ibu Kartini dalam pendidikan sehingga ibu sebagai pusat kehidupan keluarga yang akan mengarahkan dan menjalankan tugas dalam mendidik anak-anaknya.  Selamat Hari Kartini. (*)

Komentar

News Feed