oleh

Waw, Hutang Pelanggan Gas Kota Rp 29 Miliar

-Metropolis-187 views

PRABUMULIH – Hutang pelanggan gas kota yang sebelumnya disebut-sebut mencapai senilai Rp 47 miliar, ternyata hanya Rp 29 miliar. Jumlah itu terungkap setelah DPRD Kota Prabumulih mengundang PD Petro Prabu untuk mengklarifikasi terkait hutang dan pengelolaan gas kota, kemarin.

“Kami meluruskan utang yang disampaikan bahwa hutang Petro Prabu Rp 47 miliar. Utang kita tidak sebesar itu, setelah kita undang ternyata utang kita Rp 29 miliar dan itu bukan hutang Petro Prabu tapi pelanggan,” kata Ketua DPRD H Ahmad Palo SE dibincangi usai pertemuan di ruang rapat DPRD, Senin (8/7).

Nah, selain hutang pelanggan, terungkap pula bila Pertagas Niaga memiliki hutang ke PD Petro Prabu senilai Rp 2,5 miliar lebih. “Perlu dicatat bahwa Petro Prabu punya tagihan ke Pertagas Niaga, terkait pembayaran operasional. Kita punya tagihan piutang pembayaran operasi. Kita sudah nagih tapi mereka belum bayar. Ini akan kita duduk bersama dengan PT Pertagas Niaga mencarikan solusi terkait permasalahan ini,” terang Palo.

Nah, terkait tunggakan pelanggan yang mencapai Rp 29 Miliar, suami Hj Rusni SH ini meminta ketegasan dari PD Petro Prabu. “Dalam hal ini Petro Prabu harus tegas, termasuk juga memperbaiki managemen baik pencatat meteran juga akan dievaluasi. Itu yang kami dorong agar melakukan perbaikan sehingga kedepan tak lagi terjadi,” bebernya seraya menambahkan perlu kesadaran dan kerjasama dari pelanggan terkait penyelesaian tunggakan.

Sementara terkait kontrak pengelolaan gas kota, kemungkinan akan menggunakan skema Operasional Margin (OM). “Ada plus minus tapi secara keseluruhan lebih menguntungkan skema OM ini. Kita sebagai pengelola saja,” ujarnya. Direktur PD Petro Prabu H Azhari Harun, mengakui jumlah hutang pelanggan yang mencapai Rp 29 Miliar. “Untuk jumlah yang menunggak saya lupa, tapi itu ada yang tidak bayar satu tahun lebih. Kita terus berupaya menagih, setiap bulan diberi peringatan,” katanya seraya menuturkan pemutusan terhadap pelanggan yang menunggak terus dilakukan.

Bahkan saat ini sudah sekitar 1.600 pelanggan yang diputus. “Sebenarnya memang kalau sesuai aturan, 3 bulan ke atas sudah diputus,” tegasnya. Sedangkan terkait piutang Pertagas Niaga, menurut Azhari piutang tersebut terhitung dari bulan Juni 2018-Juli 2019 yang belum dibayar dari Pertamina dalam hal ini Pertagas Niaga. “Itu tagihan kita dengan Pertamina, tagihan OM sistem yang digunakan sekarang berupa jasa dan pembayaran OM nya itu,” ujarnya.

Untuk kerjasama diakuinya, memang lebih memilih OM dari pada Gross Margin. Itu untuk menghindari adanya resiko seperti tunggakan pelanggan. “Kalau melihat keadaan sekarang ya itu. Kecuali pelanggan sudah bayar semua dan tunggakan tidak terlalu besar. Kalau sekarang ini utang balik ke Petro Prabu,” katanya. Terkait pembenahan lanjut Azhari pihaknya akan terus berupaya, agar PD Petro Prabu menjadi lebih baik. Termasuk dalam perekrutan pencatat meteran. “Mungkin nanti merekrut yang benar-benar profesional,” tukasnya. (08)

Komentar

News Feed