oleh

Waw, Harga Menara Masjid Mardhotillah Rp300 Jutaan

-Metropolis-909 views

PRABUMULIH – Nama masjid Mardhotillah masuk dalam daftar 22 proyek masjid tahun 2016 silam yang saat ini tengah disidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Prabumulih menyusul adanya dugaan korupsi proyek masjid.
Sesuai data layanan pengadaan secara elektronik (LPSE), proyeknya dinamai dengan proyek pembangunan masjid Mardhotillah dengan anggaran mencapai Rp292.500.000.
Namun belakangan diketahui, anggaran hampir Rp300 jutaan tersebut dihabiskan hanya untuk membangun menara masjid. Sementara rehab bangunan masjid dilakukan oleh pengurus masjid melalui anggaran tersendiri.
Kualitas menara pun masih jauh dari harapan. Pengurus masjid bahkan menilai tangga yang dibuat di dalam menara tak dapat digunakan untuk menuju ke atas menara.
“Zaman nabi dahulu kita kan semua tau kalau fungsi menara itu untuk orang naik ke tempat tinggi dan mengumandangkan adzan. Nah ini, kalau tidak percaya kita lihat ke dalam menara itu, coba lihat tangga yang dibangun cuma dengan batangan tiang besi sampai ke atas. Siapa yang berani naik ke atas kalau seperti itu, silahkan kalau berani tapi kalau saya takut,” ungkap H Mahari, Ketua Pengurus Masjid Marthodillah kemarin.
Menurut dia, masa pengerjaan proyek pembangunan masjid tersebut dilakukan pemborong pada Oktober 2016 lalu. Pihaknya pun menegaskan sejak awal pembangunan dilakukan, tidak ingin ikut campur dalam proyek yang menggunakan anggaran ABPD Pemkot Prabumulih tersebut.
“Karena waktu pertama mau dibangun, keinginan kami menara itu agar bisa selaras dengan masjid ini. Dari soal pengecatan kita minta kalau bisa disesuaikan dengan warna cat kuning masjid yang sudah dari awal. Tapi mereka tidak mau, dan catnya tetap dipilih sendiri justru kuning seperti sekarang ini, apalagi tangganya,” beber dia.
Disampaikan H Mahari, bahwa dalam pembangunan masjid Marthodillah itu kondisinya saat ini masih dalam tahap penyelesaian bangunan masjid berlantai dua yang menggunakan dana hasil swadaya masyarakat, infaq warga serta sejumlah sumbangan bantuan dari para pihak donatur.
“Sama sekali tidak, kalau bangunan dari Pemkot itu sebatas menara itu saja kami hanya tidak mau turut campur kalau urusan bangun membangun itu. Kalau masjid ini di bangun dari hasil kita meminta sumbangan infaq para jemaah masjid setiap harinya,” tandasnya.
Secara terpisah, Wali Kota Prabumulih, Ir H Ridho Yahya MM mengatakan dalam penganggaran proyek tender pembangunan sejumlah masjid di Prabumulih seluruh pelaksanaan baik administrasi maupun segela persyaratan pengikutan tender sudah sesuai ketentuannya.
“Memang ada yang dibangun dinding dan tiang dulu, karena akan dilanjutkan kedepannya. Ada juga yang langsung jadi, masyarakat mungkin tidak mengetahui itu, kami yakin tidak ada lah yang berani curang,” tuturnya.
Mengingat yang dibangun merupakan rumah ibadah, kata Ridho, maka dari jauh-jauh hari sebelum melakukan pembangunan pihaknya telah mengimbau para kontraktor pelaksana untuk bekerja sesuai RAB dan aturan yang ada. “Ini kan kita harapkan pembangunan masjid biar masyarakat tidak susah-susah meminta sumbangan lagi. Dan yang dibangun ini rumah ibadah, bisa kualat kalau fiktif atau tidak sesuai ketentuan,” tegas dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemkot Prabumulih, M Sufi ST kepada awak media menyebutkan, tidak ada proyek masjid yang tumpang tindih ataupun dikerjakan tidak sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB) serta dugaan proyek yang dikerjakan fiktif.
“Iya kalalu untuk masjid An Nur itu, memang dua proyek. Yang pertama penunjukan langsung (PL) yang mengerjakan pada bagian dalam dan satunya lagi proyek Tender yang juga mengerjakan pembangunan atap sekeliling masjid serta kubah,” tuturnya.
Meski satu masjid dikerjakan dengan dua proyek, namun kata Sufi, pengerjaan proyek masjid tersebut tidak menyalahi ketentuan yang ada. “Jadi memang mereka dua kali mengajukan proposal pembangunan, pertama turun untuk bangun plafon sehingga dikucurkan dana melalui proyek PL. Lalu, keduanya mereka usulkan lagi yang kemudian ditenderkan untuk pengerjaan kubah serta atap luar atas masjid, dan ini tidak menyalahi,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan dia, jika sebelum pembangunan masjid dilakukan, untuk peletakan batu pertamanya pada bagian pondasi masjid itu dilakukan Wali Kota Prabumulih, Ir H Ridho Yahya MM. Selanjutnya dana pembangunan hingga selesai dianggarkan dan baru dikucurkan pada 2016.
“Nah setelah dibangun pondasi, pengurus masjid lalu membangun dinding dan tiang menggunakan dana masjid serta sumbangan masyarakat, mestinya tidak dibangun dulu karena ada dana pemerintah yang ditender. Tetapi karena telah dibangun dinding maka itu kami hitung nol dengan posisi seperti itu atau kami lakukan CCO, sehingga anggaran dinding dialihkan ke lain,” tukas Sufi. (Mg03)

News Feed