oleh

Wako: Pertamina Sengaja Ulur Waktu

PRABUMULIH – Lambannya ganti rugi dari PT Pertamina Asset 2 Field Limau terhadap insiden keretakan rumah warga Desa Tanjung Menang disayangkan oleh Wali Kota Ir H Ridho Yahya MM.
Orang nomor satu di Bumi Seingok Sepemunyian ini menilai Pertamina terkesan mengulur waktu dengan menurunkan tim peneliti dari Universitas Sriwijaya (Unsri). Padahal menurutnya dari hasil tim pemerintah kota sudah jelas jika fenomena fenomena tersebut terjadi akibat aktivitas dari Pertamina.
“Disanakan basis ekplorasi, semestinya Pertamina jangan menukar-nukar tim peneliti, semestinya apa adanya. Setelah tim peneliti dari pemkot menyatakan akibat pengeboran ya sudahlah kan sudah jelas, jangan membuat masyarakat makin resah,” kata Ridho kemarin (30/8).
Lebih jauh Ridho mengungkapkan, tak seharusnya Pertamina menurunkan tim, sebab menurutnya selain penyebab sudah jelas. langkah pertamina yang menurunkan tim peneliti dari Unsri merupakan salah satu cara untuk lari dari kenyataan (tidak bertanggungjawab). “Dia itukan menurunkan tim itu untuk lari dari kenyataan, dari dinaskan menyatakan itu akibat dari eksplorasi itu sudahlah tak usah dibantah lagi lah. Kalau datangkan tim, palingkan bukan karena dia (pertamina) kan larinya kepemerintah, karena rakyat pemerintah turun tangan kan sama saja yang membenarinya pemerintah,” tegasnya.
Semestinya kata ayah tiga anak ini, Pertamina mengambil langkah cepat dengan mencari solusi, duduk bersama masyarakat sehingga tak menimbulkan masalah baru hingga memancing tindakan yang tak diinginkan. “Kan sudah tau akibatnya, sudah jelas bahwa itu akibat dari pengeboran. Sebenarnya tinggal berundung dengan masyarakat kan mereka ada pos dahanya. Jangan sampai nambah masalah baru nanti ada anarkis, sekarang tak jamannya lagi anarkis,” bebernya.
Lain halnya jika dusun III Tanjung Menang tersebut kata Ridho, bukanlah daerah atau wilayah kerja Pertamina yang tak memiliki aktivitas apapun. “Lain kalau memang tidak ada lokasi pengeboran sama sekali atau jauh. Baru kalau mereka mau komplain, inikan jelas daerah ekplorasi jadi jangan mengulur waktu dan kedua melarikan masalah ke pemerintah,” ucapnya.
Sementara, Relation and Formalitis Staf Filed Limau, Afrianto mengatakan, pihaknya sengaja menunjuk tim peneliti dari Unsri karena dianggap netral. “Kami kan butuh kajian secara ilmiah sehingga bisa dipertanggungjawabkan, makanya kita tunjuk dari unsri yang merupakan dari dunia pendidikan dan memang sudah terakreditas dan diakui,” ujar Afrianto.
Apabila hasil kajian tersebut sudah keluar dan ternyata memang kerusakan disebabkan karena aktifitas operasional pertamina, sambung Afrianto, pihaknya akan bertanggungjawab. “Kita akan bertanggungjawab sesuai dengan undang-undang yang berlaku, jadi sejak awal sesuai komitmen kami kami akan bertanggungjawab. Asalkan sudah ada kajian secara ilmiah, kami mengeluarkan uang ganti rugi kan harus dipertanggungjawabkan makanya dibutuhkan kajian itu,” pungkasnya. (05)

News Feed