oleh

Wako : Masjid Pusat Pembinaan Umat Islam

PRABUMULIH – Forum Komunikasi Antar Masjid (FKAM), jangan menjadi sekedar forum saja. Tetapi, FKAM harus menjadikan wadah pemersatu antar pengurus masjid. Ungkap Wali Kota (Wako), Ir H Ridho Yahya MM, ia mengajak masyarakat dan pengurus masjid untuk memakmurkan masjid. Sebagai, salah satu pembinaan umat islam di kota ini.
“Pemerintah kan sudah membangun masjid, siapa lagi yang akan memakmurkan masjid. Kalau tidak pengurus masjid dan juga bersama masyarakat sekitar masjid itu sendiri,” jelas Ridho, begitu di sapa akrab ketika mengukuhkan sebanyak 30 orang Kepengurusan FKAM Kota Prabumulih, Sabtu malam (25/11) di Masjid Agung Nur Arafah.
Lanjut orang nomor satu ini, kalau pengurus masjid punya peranan penting dalam memakmurkan masjid. Menurut ayah tiga anak ini, makmurkan lah masjid sesuai dengan bidang keahliannya masih-masing.
“Jadikan masjid sebagai sarana pembinaan umat Islam, untuk meningkatkannya. Termasuk juga, mengalakkan baca tulis alquran (BTA) melalui kegiatan Taman Pendidikan Alquran (TPA)/Taman Kanak-Kanak Alquran (TKA),” jelas pria kelahiran Ogan Ilir (OI) ini.
Sementara itu, Ketua FKAM, H Ismet Hasan mengatakan, ia bangga dipercaya memimpin FKAM yang berdiri sejak 1994. Dan, ia akan melanjutkan kepercayaan dan amanat yang diberikan.
Ismet, begitu ia disapa akrab menyebutkan, tujuan dirikan FKAM sendiri. Bagaimana menjadikan masjid menjadikan sarana pembinaan iman umat islam. Selain itu juga, pembinaan masyarakat islami.
“Lalu, pengokoh nilai islam dan perjuangan menegakkan nila-nilai islam. Menjadikan masjid sarana tarbiyah, untuk meningkatkan kecerdasan umat islam,” beber pria yang berdarah Padang, Sumatera Barat (Sumbar).
Ia menyadari, menjalankan amanat tersebut memang bukan pekerjaan mudah. Tetapi, Ismet menyebutkan, itu bisa dilakukan dengan Dipikul semuanya.
“Kita bisa lakukan, asalkan didukung pengurus masjid utamanya. Sehingga, program dan gagasan FKAM bisa jalan. Ayo, mari kita bekerja dan berbuat untuk itu,” ajaknya.
Sementara itu, Ustadz H DR Abdi Kurnia Djohan mengatakan, belajar agama tanpa ilmu. Itulah yang membahayakan, hingga memunculkan namanya terorisme.
“Kalimat takbir lazimnya digunakan untuk azan, dikumandangkan ketika lebaran, dan lainnya. Bukan untuk demo, seperti selama ini yang terjadi,” ingatnya ketika mengisi tausiyah pada peringatan maulid nabi Muhammad SAW dan pengukuhan kepengurusan FKAM.
Sambungnya, ditekankannya kalimat suci agama. Menurutnya, jangan karena hawa nafsu menjadi rendah. Sesungguhnya, sang pencipta tidak ridho.
“Makanya, jangan di salah gunakan. Berbicara agama boleh, tetapi harus paham dan mengerti. Dan, bukan sebaliknya dan itu bisa membahayakan,” ujar pria yang bergabung sebagai Watimpres di era Presiden RI, Jokowi.
Ucapnya, segala sesuatu harus dilihat dari kacamata ilmu. Maka, jelas hasilnya dan sebaliknya tidak baik. Berbicara, asal tanpa ilmu. Ia menyebutkan, islam itu sumber kasih sayang. Dan, mengedepankan dialog serta pemecahan masalah. “Syariat jadi patokan, dan siapa yang menjalankan syariat patut dihormati,” bebernya. (06/np)

News Feed