oleh

Terkait Permen LHK No 20/2018, Ini Kata Pecinta Burung

PRABUMULIH – Pecinta burung berkicau di kota Nanas gelisah. Pasalnya, Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No 20/2018 tentang tumbuhan dan satwa dilindungi bakal mempersempit ruang gerak hobynya.

Terlebih, ada beberapa jenis burung yang belakangan laris di pasaran masuk hewan yang dilindungi. Seperti murai batu, jalak suren, cucak ijo dan colibri. Meski ada pro dan kontra, sebagian pecinta burung meminta pemerintah mengkaji ulang Permen tersebut.

Ketua Pencinta Burung Berkicau Rajawali Indonesia, Tri Hidayat ST menilai kebijakan tersebut merugikan dan menurunkan minat pencinta burung berkicau. “Kalau dilarang jelas kita menolak, apalagi banyak sekali orang yang mengantungkan hidupnya dari burung berkicau ini,” terang dia.

Ia mengatakan, justru para pecinta burung berkicau ini sifatnya melestarikan. Khususnya, jenis murai batu, jalak suren, cucak ijo dan colibri. “Tapi justru keempat burung tersebut masuk satwa dilindungi,” ujar aku Tri, begitu sapaan akrabnya ketika dibincangi koran ini, Sabtu lalu (25/8) di sela-sela latihan terbang (latber) yang diadakannya di lapangan warga Samping Disnaker.
Kata dia, pencinta burung menginginkan jika kebijakan Permen LHK tersebut ditinjau ulang. Sehingga, tidak merugikan pencinta burung berkicau. Terutama yang selama ini memang hobi memelihara burung berkicau dan juga untuk dipertandingkan.

“Sebaiknya, kebijakan tersebut dievaluasi ulang. Karena bisa berdampak pada hobi burung berkicau ini di Indonesia. Termasuk juga, di Kota Nanas ini yang selama ini memang banyak penghobi burung dan sering ada kompetisi,” jelasnya.
Berbeda diutarakan Benny, pencinta burung lainnya. Awalnya memang dirinya menolak adanya kebijakan tersebut. Tetapi setelah membaca dan mendalami aturannya. Ternyata adanya Permen LHK 20/2018 ia mendukungnya.

Ungkapnya, khususnya untuk pelestarian burung-burung berkicau yang memang dialam kondisinya mulai langkah karena adanya penangkapan liar. “Kalau untuk penangkapan liar saja yang ditindak kita sangat setuju. Apalagi untuk perlindungan satwa yang kian langka. Selain itu, aturan tersebut tidak berlaku surut,” jelasnya.

Selain itu kata dia, dalam aturan tersebut pemilik burung berkicau yang telah dipelihara, baik dari alam atau dari penangkaran sebelum aturan tersebut sangat setuju teregistrasi atau didata Balai Kelestarian Sumber Daya Alam (BKSDA). “Kalau sudah teregistrasi, artinya burung-burun
g berkicau tersebut terdata kepemilikannya. Dan kalau hilang jelas mudah mencarinya. Selain itu, sejauh ini informasi yang diterima registrasinya tidak dipungut biaya alias gratis,” bebernya.
Sebutnya, adanya registrasi burung berkicau tersebut. Jelas akan mendongkrak harga burung berkicau yang selama ini memang tinggi dan makin tinggi harga ke depannya. “Karena, status burung jelas asal usulnya. Kalau sudah teregistrasi, harga pun jelas akan tinggi,” bebernya.
Nah, ungkapnya untuk penangkaran burung berkicau lanjut dia, memang harus ada izin dari BKSDA. Informasi yang diterimanya memang hanya sekali mengurus izin tersebut. Ditegaskannya indukan pertama bagi penangkaran tidak bisa dijual.
“Memang perlunya sosialisasi. Supaya penghobi burung berkicau mengerti jelas dan paham soal aturan tersebut. Sehingga, tidak menimbulkan kesimpangsiuran atau salah tafsir. Atas informasi yang diterima tidak jelas,” sambungnya.

Belum Pengaruhi Peternak Murai Batu
Adanya Permen LHK No 20/2018, sejauh nampaknya belum mempengaruhi penangkaran burung murai batu. Salah satunya, Yan MB, penangkar murai batu di Kota Nanas ini.
Yan mengungkapkan, kalau mengacu aturan yang ada. Memang yang dilarang hanya, untuk penangkapan liar burung-burung yang dilindungi. Kalau penangkaran seperti dirinya, hanya mengurus izin saja ke BKSDA.
“Memang belum ada pengaruhnya. Kita sebagai penangkar burung murai batu, asalkan tidak merugikan kita akan turuti aturan tersebut. Apalagi penertiban tersebut hanya untuk penangkapan ilegal,” sebutnya.
Kata Yan, adanya registrasi dan pendataan oleh BKSDA. Ungkapnya, malahan akan mendongkrak harga burung murai baru hasil penangkaran. Karena, dilengkapi sertifikat atau dikenal burung ring.
“Selama ini, bukan indukan F1 yang dijual. Tetapi, F2 yang kita jual. Penangkaran ini sendiri, bagian dari upaya kita melestarikan burung murai batu,” jelasnya.
Selan itu, ia berharap khususnya bagi penangkar jangan dipersulit soal pengiriman burung murai batu. Karena, pembelinya tidak hanya berasal dari Prabumulih saja tetapi dari luar kota.
“Selama ini, pengiriman murai batu kita memang diperiksa dahulu di BKSDA atau lembaga Karantina. Tidak ada masalah dan lancar. Adanya aturan baru ini tidak mempersulit pengiriman burung murai batu hasil tangkaran kita tersebut,” tutupnya. (03)

News Feed