oleh

Sumatera Pertama Kali Diterpa Kemarau

-Nasional-210 views

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau pertama akan terjadi Pesisir Sumatera bagian Tengah dan Kalimantan bagian Barat. Selain itu, terjadi peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan di Riau.

Dari rilis yang dikirim BMKG, dalam curah hujan di sepuluh hari pertama pada bulan Februari, menunjukkan curah hujan kategori rendah. Ini tampak di sebagian besar Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Riau, sebagian Kalimantan Utara dan Timur, Gorontalo, dan sebagian Sulawesi Tengah.

Dari analisa BMKG, terlihat pola hari tanpa hujan berurutan di wilayah pesisir timur Aceh, Sumatera Utara, dan Riau terindikasi mengalami hari kering berurutan 6 – 20 hari dalam kategori pendek dan menengah.
Di Riau, hari tanpa hujan kategori panjang selama 21 – 30 hari. Ini terjadi di Rangsang, Rangsang Pesisir dan daerah Tebing Tinggi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, menjelaskan dalan 20 hari ini, wilayah kering mendominasi sebagian Indonesia ini ditengarai sebagai MJO (Madden Julian Oscillation/massa udara basah) fase kering. “Kondisi ini menyebabkan proses konvektif (penguapan) dan pembentukan awan hujan terhambat,” terangnya, Jumat (22/2).

Herizal mengungkapkan, dampak dari kemarau pertama adanya peningkatan jumlah titik api (hotspot) pada dua pekan terakhir. “Daerah yang cukup signifikan berada di Riau ada 80 titik api, padahal minggu lalu ada 24 titik sementara di Kalimantan Timur ada tujuh titik,” jelasnya.

Dari pengamatan Stasiun Klimatologi Tambang, Riau, kondisi curah hujan bawah normal terdeteksi di wilayah pesisir timur telah berlangsung sejak awal Februari 2019.

Herizal menambahkan kondisi kering ini akan berpotensi memudahkan terjadinya hotspot yang dapat memicu kejadian kebakaran hutan dan lahan. ” Efek selanjutnya dapat menimbulkan asap dan penurunan kualitas udara,” jelasnya.

Sebelunmnya, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memantau adanya penurunan kualitas udara berdasarkan Indek Standar Pencemaran Udara dan menunjukkan TIDAK SEHAT di daerah Rokan Hilir pada hari Senin, 12 Februari 2019 pukul 09.00 WIB.
Sementara daerah lain terindikasi masih dalam kategori Sedang. Pengamatan jarak pandang mendatar (visibilitymaksimum) terlaporkan masih dalam kisaran 2 – 5 km.

Berdasarkan posisi daerahnya, Pesisir Barat Sumatera, Sumatera bagian Tengah, Kalimantan Barat dan Tengah, Sulawesi bagian Tengah dan sebagian Tenggara, dan sebagian Papua bagian Utara yang dekat dengan garis khatulistiwa, memiliki karakter musim yang berbeda dengan wilayah lainnya di Indonesia.
Karakter musim itu ditandai adanya dua kali puncak hujan dan puncak kemarau dalam setahun. Kondisi ini berlangsung di bulan Februari, sementara kemarau kedua berlangsung mulai Juni hingga Agustus.

Herizal mengimbau kepada
pemerintah daerah di wilayah terdampak untuk terus waspada dan siap siaga terhadap potensi kebakaran lahan dan hutan bahaya polusi udara dan asap, potensi kekeringan lahan dan kekurangan air bersih. “Jangan lupa terus mengikuti pembaharuan informasi supaya titik api bisa dicegah,” jelasnya.

Sementara Menteri Lingkungan Hiduo dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan, Salah satu indikator deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah hotspot (titik api) kini bisa diakses secara riil. Data hotspot yang bersumber dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) ini menjadi acuan untuk publik.

“Data hotspot tersebut dapat diakses dengan mudah melalui website sistem monitoring KLHK yaituhttp://sipongi.menlhk.go.idatau aplikasi Sipongi Laporan Titik Panas yang dapat diunduh melalui gawai android,” sebutnya.

Melalui media ini, sambungnya, masyarakat dapat memantau langsung perkembangan hotspot di seluruh wilayah Indonesia, khususnya yang berada pada lokasi-lokasi rawan karhutla.

Berdasarkan data pantauan Posko Pengendalian Karhutla KLHK, selama Januari 2018, terdapat 33 hotspot. Meskipun jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2017 sebanyak 101 titik, dan tahun 2016 sebanyak 199 titik. Walaupun lebih kecil, tapi tetap harus diwaspadai,” tandasnya. (fin/tgr)

News Feed