oleh

Sempat Disegel Ahli Waris, Dibongkar Paksa Sat Pol PP. Sengketa Lahan SDN 6-24 Berlanjut

PRABUMULIH – Kisruh atau sengketa lahan SD Negeri 6 dan 24 belum juga berakhir. Terbaru, ahli waris, Sarlan Bin Djenalam, Kamis (29/8) sekitar pukul 06.00 wib kembali menyegel pintu masuk dan ruangan SD Negeri 6 dan 24. Hanya saja, upaya ahli waris itu tidak berlangsung lama. Itu setelah sekitar pukul 07.30 WIB, pintu masuk dan ruangan yang disegel dibuka paksa Sat Pol PP setelah Sekretaris Daerah (Sekda), Elman ST MM memerintahkannya. Elman menerangkan, pembongkaran segel dilakukan didasari kalau lahan SDN 6-24 sudah inkra asset Pemerintah kota (Pemkot). Itu dibuktikan dari keputusan Mahkamah Agung (MA) No : 2645/K/Pdt/2018.

Selain itu, kata dia, didasari keputusan itu diterbitkan sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) No 04.12.03.01.4.00012. “Putusan MA menetapkan lahan SDN 6-24, inkra asset Pemkot. Bukti-bukti lengkap kita miliki,” jelas Mantan Kepala Bappeda ini kepada awak media, Kamis (29/8).

Lanjutnya, pembongkaran ini juga didasari agar kegiatan belajar mengajar di SDN 6-24 tidak terganggu. “Kita bongkar demi pelayanan publik, jangan sampai anak-anak tidak sekolah. Karena, masalah ini. Setelah dibongkar, jelas kegiatan belajar anak didik SDN 6-24 berjalan seperti sedia kala,” terangnya didampingi Kabag Hukum dan Perundangan-Undangan (Per-UU), H Sanjay Yunus SH MH.

Selain itu, kata dia, Pemkot bakal mengambil langkah hukum dan melaporkan ahli waris ke polisi terkait tindak penyegelan telah dilakukannya di lahan asset sudah inkra milik Pemkot tersebut. “Setelah pembongkaran ini, langsung kita buat laporan kepada pihak kepolisian terkait penyegelan tersebut. Apalagi, sudah jelas lahan ini asset Pemkot sesuai keputusan MA,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolres Prabumulih, AKBP Tito Travolta Hutauruk SIk menerangkan, kalau pihaknya sifatnya melakukan pengamanan saja untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan terjadi di SDN 6-24 ketika penyegelan dan juga pembongkaran segel. “Kita kerahkan sekitar 30 personel, untuk pengamanan di lokasi SDN 6-24. Mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan di lokasi SDN 6-24,” jelasnya.

Selain itu, tegasnya, distandybyekan untuk menjaga lahan SDN 6-24 hingga situasi kondusif, sehingga tidak menganggu proses kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut. “Tidak ada seorang pun atau warga, bisa menganggu dan menghalangi proses belajar mengajar. Makanya, kita siapkan personel untuk menjaganya,” bebernya. Soal laporan Pemkot terkait tindakan penyegelan tersebut, sebut Tito menunggu laporan tersebut. “Silakan laporkan, kita proses sesuai dengan ketentuan dan aturan berlaku,” jelasnya.

Sementara itu, kuasa hukum ahli waris, Jeferson S Wonlay SH menerangkan, kalau penyegelan dilakukan tindaklanjut suratnya setelah diajukan mulai Wako hingga Kapolri. “Akibat kecerobohan Pemkot, kasus sengketa ini belum selesai dan proses hukumnya masih jalan, belum inkra atau belum ada keputusan tetap, ” ujarnya. Ia juga mempertanyakan keabsahan sertifikat telah dikeluarkan BPN didasari katanya putusan MA. “Masa putusan MA belum keluar, sertifikat sudah keluar dahulu. Itu kita pertanyakan,” pungkasnya.

Pantauan koran ini, kemarin kegiatan belajar mengajar di kedua sekolah tersebut sempat terhenti ketika disegel dan sejumlah siswa terpaksa dipulangkan. Namun, setelah dibongkar segel. Kegiatan mengajar dimulai kembali, siswa SDN 24 mengelar doa bersama supaya, masalah sekolah tengah sengketa, segera selesai dan aktivitas belajar mengajar tidak terganggu.

“Harapan kita supaya anak-anak tetap belajar dan kondusif. Instruksi dinas, ikuti prosesnya. Sesuai apa disampaikan Kapolres dan Sekda, aktivitas belajar tetap jalan,” ujar Kepala SDN 24, Suhermanto SPd MSi. Aktivitas penyegelan ini, kata dia jelas menganggu dan menyebabkan aktivitas belajar sempat terganggu. “Kepada ahli waris kita berharap sekolah tidak disegel dan kondisi sekolah kondusif. Anak-anak kasihan, terkena imbasnya karena aksi penyegelan ini,” tambahnya.

Salah satu orang tua, Juan (40) mengaku, sempat khawatir karena anaknya tidak bisa masuk sekolah akibat pintu masuk dan ruangan belajar disegel ahli waris. “Anak saya terpaksa pulang, karena tidak bisa belajar karena pintu masuk dan ruangan belajarnya tembok,” tambahnya. Ia berharap, agar proses sengketa antara ahli waris dan Pemkot segera selesai, dan aktivitas sekolah bisa berjalan seperti semula. “Semoga cepat selesai masalahnya, sehingga anak kita bisa sekolah kembali. Dan, aktivitas kegiatan belajar tidak terganggu dan normal lagi,” pungkasnya. (03)

Komentar

News Feed