oleh

Rusina Kumpulkan Pasir dari Sungai Kelekar, Demi Penuhi Kebutuhan Hidup

-Kecamatan-35 views

SINDUR – Berbagai jalan dan cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan, mulai dari rumah secara online, hingga bekerja berat meski harus dibawah terik panas dan hujan.

Rusina (50) warga Kelurahan Sindur Kecamatan Cambai, adalah salah satu potret kehidupan yang harus memenuhi kebutuhan dengan cara berat.  Ya, ibu tiga anak ini sudah hampir 2 bulan terpaksa mengais rezeki dengan cara mengumpulkan pasir dari sungai kelekar. “Yang penting halal nak,” kata Rusina membuka pembicaraan saat ditemui Prabumulih Pos di lokasi penambangan pasir secara tradisonal di Sungai Kelekar Kelurahan Sindur.

Rusina tak sendiri, terlihat puluhan warga lainnya mengerjakan hal yang sama. Namun, untuk wanita hanya Rusina dan satu warga lainnya.  Tubuhnya yang mulai terlihat renta, masih sangat kuat memikul  beban yang begitu berat. “Ini oleh korona, jadilah ngumpul-ngumpuli duet dikit,” ujarnya sembari mengangkut pasir seberat 15 kg dipundaknya.

Rusina mengatakan, tingginya harga kebutuhan pokok ditambah kondisi pandemi membuat perekonomian warga berpenghasilan kecil kian tercekik. Belum lagi harga karet yang makin merosot membuatnya banting setir untuk mencari penghasilan tambahan. “Karet murah nian, jadi pulang nakok dak biso diam di rumah. Harus cari tambahan, siang sudah sholat turun ke sungai. Sampai sore biasonyo dapatlah,” imbuhnya.

Menurutnya, untuk  perhari biasanya bisa mendapatkan 1 kibik pasir atau biasanya 10 karung pasir. Itupun dilakukan bersama rekannya yang juga seorang perempuan. “Sehari Rp 50 ribu, jadilah nambahi belanjo. Untuk ngasih anak cucu,” tutur wanita yang sudah memiliki cucu ini.

Meski memiliki tiga anak, bagi Rusina hidup mandiri selagi tubuh masih sehat lebih baik dari pada harus merepotkan keluarga. “Selagi masih kuat sehat, idak nak minta dengan anak,” bebernya mengaku masih beruntung karena memiliki lahan kebu karet sendiri.

Kerasnya hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dengan mengumpulkan pasir dari sungai juga dirasakan Alamsyah. “Intinya sejak corona, walaupun memang dapat bantuan tapi itu belum cukup. Kami harus tetap mencari sampingan,” kata Alamsyah warga RT 1 RW 1 ini.

Beruntung kata dia, pasir yang diangkut warga sudah ada yang menampung. “Ada toko material yang ambil kesini. Kalau warga turun ke sungai itu dari jam 8 sampai jam 6 sore,” tuturnya.

Ia juga mengakui, harga karet yang tak kunjung merangkak naik juga membuat warga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan. “Karet 2 minggu paling Cuma Rp 6.500, sementara kebutuhan sekarang banyak. Ditambah korona jadi makin susah. Salah satu pilihan warga ambil pasir secara manual,” tukasnya.(08)

 

Komentar

News Feed