oleh

Reski Setiawan Pelajar yang Menerima Bantuan Android dari Sekolah

Tak Terpikir Punya Handphone,  Utamakan Beli Beras

Reski Setiawan pelajar SMAN 1 adalah satu diantara pelajar Kota Prabumulih yang sempat merasakan “kelamnya” belajar dari rumah akibat Covid-19. Ya, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mengharuskan siswa memiliki android dan kuota terganjal ekonomi orang tua yang hanya bekerja buruh serabutan. Berikut ceritanya?

 

Ros Diana – PRABUMULIH

RUMAH bercat kuning beratap seng terlihat masih baru. Terutama di bagian depan. Suasana terlihat tenang, meski sesekali hilir mudik kendaraan melintasi jalan di Kelurahan Anak Petai, Kecamatan Prabumuli Utara, Kota Prabumulih.

Waktu menunjukan pukul 15. 00 WIB. Di samping rumah tersebut duduk perempuan mengenakan jilbab bermotif kembang. Ya, melihat dari kondisi rumahnya sepertinya baru saja dibangun. Koran inipun penasaran dengan si empunya rumah.

Ternyata perempuan tersebut bernama Latifah (45), yang tak lain ibunda Reski Setiawan pelajar SMAN 1, yang menerima bantuan android dari sekolah tempatnya belajar. “Iya saya ibunda Reski,” ucap wanita ini dengan suara ramah saat koran ini menyambangi kediamannya.

“Rumah ini baru saja dapat bantuan bedah rumah dari Baznas. Jadi terlihat baru dibangun,” terang Latifah. Melihat ukuran rumah tersebut sekitar 6×6 meter. Sebagian lantai sudah disemen, tapi ada yang masih berlantaikan tanah.

“Reskinyo keluar tadi, dak bilang nak kemano. Kalau tau (ada wartawan,red) dakku suruh pegi tadi,” kata Latifah memulai pembicaraan.

Dalam ruangan beratap seng, dengan dipenuhi susunan bolu dan brownies usaha sampingan selama Idul Adha. Latifah mengakui keterbatasan ekonomi keluarga dalam menghadapi pendidikan anaknya selama belajar jarak jauh.

Latifah mengaku keluarga memiliki handphone android tapi dalam kondisi rusak. Namun tak memungkinkan untuk diperbaiki.

“Kami ngerti kondisi cak ini belajar harus daring, tapi terus terang bukan dak galak beneri hape kami nak makan dulu, pilih beli beras dulu. Alhamdulillahnyo kalau tempat (rumah,red) dak ngontrak lagi,” ujar Latifah.

Ia bersyukur Reski mendapat bantuan dari sekolah. Dengan begitu anaknya tak lagi harus berjalan kaki dari rumah menuju sekolah. “Alhamdulillah, sebab kasian Reski pernah jalan kaki ke sekolah, berangkat jam 6 pagi takut terlambat,” tuturnya mengatakan Reski tak pernah menuntut untuk dibelikan HP.

Tak tega anaknya harus berjalan kaki dengan menempuh perjalanan jauh, Latifah dan sang suami Zamiri rela mengeluarkan uang Rp 10 ribu per hari untuk biaya ojek Reski. “Ke sekolah disuruh bawa bontot, dio dak mau. Jadi kadang jajan, sisonyo ditabung katonyo nak beli hape. Tapi alhamdulillah sudah dipinjamke. Kupesanke Reski jangan sampai rusak, dijago nian. Kito takut gek rusak nak genti cakmano,” terang Latifah yang sesekali membenarkan jilbab bermotif bunga-bunga.

Selaku orang tua kata Latifah, sudah tentu ingin memiliki ekonomi yang cukup sehingga bisa memenuhi pendidikan anak-anaknya. Namun, kondisinya yang sakit-sakitan dan menderita lupus, terpaksa hanya suami yang bekerja sebagai penarik angkong di pasar.

“Dulu ibu ne begawe, sejak sakit di rumah bae idak boleh lelah. Jadi hasil bapaknyo itulah untuk sehari-hari, paling cumo lebih berapo hasilnyo. Jadi dak tefikir kami nak beli hape, nak mikirke beli beras anak 3 nak dikasih makan,” terangnya dengan mata berkaca-kaca sembari mengatakan bila sehat sesekali ia mencari upahan nyuci dan menggosok pakaian.

Di luar cerita sekolah, Latifah menuturkan kehadiran Reski bagi keluarga seperti Rezeki. Betapa tidak, Reski yang dulunya sempat menderita gizi buruk dan seperti tak ada harapan ternyata tumbuh menjadi anak yang berbakti.

“Reski lahir 2002, waktu umur 3 tahun itu beratnyo cuma 2,3 kg. Itu kecil nian, banyak yang ngomong dak akan lamo. Tapi alhamdulillah sebagai wong tuo yakin. Dan sampai sekarang sehat walaupun sering batuk,” ungkapnya mengatakan sebelumnya sekeluarga tinggal di jalan Aroni Kelurahan pasar 2 Kecamatan Prabumulih Utara.

Reski yang merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara ini ungkap Latifah tak hanya berbakti, namun juga anak mandiri. “Dak susah, makan apo bae idak nuntut. Malah kadang masak dewek, galak goreng nasi,” katanya penuh rasa bangga sembari mengatakan adik Reski merupakan muadzin di Masjid.

Dari latifah diketahui juga, sejak tahun 2005 saat Reski menderita gizi buruk sejumlah bantuan mengalir untuk keluarga. Mulai dari biaya pengobatan Reski, bedah rumah hingga sejumlah bantuan dari pemerintah kota melalui pemerintah kecamatan terus mengalir. (*)

 

 

 

Komentar

News Feed