oleh

PT Pertamina Beri Kehidupan Baru Bagi Masyarakat Pedesaan

-Lapsus-124 views

Penghasil MOL, Karya Mulia Pusat Kawasan Pertaganik

PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field berkomitmen meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar wilayah kerjanya melalui program CSR Pertamina EP Asset 2 Limau Field. Melalui TP PKK dan WKT, warga Desa Karya Mulia memaksimalkan pekarangan rumah dijadikan lahan tanaman bernilai ekonomis tinggi. Berikut ceritanya.

EKA PATRIANI – Prabumulih

SENYUM sumringah mengembang di bibir anggota Wanita Kelompok Tani (WKT) Desa Karya Mulia Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT), Prabumulih. Kedatangan Wakil Wali Kota (Wawako) Prabumulih H Andriansyah Fikri dan Ketua Tim Penggerak PPK Kota Prabumulih Hj Suryanti Ngesti Rahayu Selasa (1/10) sekitar pukul 10.00 WIB membuat meraka makin percaya diri untuk terus mengembangkan aneka tanaman bernilai ekonomis.

Ya, pagi itu romongan dari Pemkot Prabumulih tidak sendiri. Melainkan didampingi Manager Limai Field, M Nur pejabat PT Pertamina EP Asset 2 lainnya. Momentum tersebut bukan terjadi spontanitas melainkan masuk dalam agenda Media Field Trip dan Media Kompetisi bersama Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel. Setiap tahun kegiatan itu dilaksanakan. digagas Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel).

Banyak pengalaman menarik dalam kegiatan tersebut. Terutama hal-hal yang penuh inspiratif. Ini lantaran pusat kegiatan Media Field Trip dan Media Kompetisi dilaksanakan pada pusat kreativitas oleh kaum hawa dalam mengoptimalkan potensi lingkungan tempatnya tinggal. Tentunya ditopang melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina.

Mereka (WKT,red) ini menanam aneka jenis tanaman toga, sayuran hingga tanaman Rosella (Hibiscus Sabdariffa). Semua tanaman jenis organik. Karena menggunakan pupuk organik. Tak hanya itu, WKT ini juga terampil dalam membuat makanan olahan yang sudah beredar di pasaran. Potensi yang dikembangkan warga memberi dampak penghasilan tambahan bagi rumah tangga.

Saat itu, penulis tergabung pada kelompok yang memantau langsung penerima manfaat dana CSR Pertamina di Kota Prabumulih. Yakni Desa Karya Mulia Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT). Jarak menuju lokasi bekisdar 12 kilomter (km) dari pusat kota Prabumulih. Sejak memasuki jalan menuju desa Karya Mulia ini terasa sangat sejuk. Ini lantaran daerah tersebut didominasi perkebunan karet dan sebagian kawasan masih dalam bentuk hutan.

Meski karet harganya belum stabil, namun masyarakat di desa ini tidak lagi khawatir terhadap pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Pasalnya, kini masyarakat desa mulai memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam berbagai tanaman obat keluarga dan tanaman sayur organik keluarga (toga dan sorga) dengan sentuhan dana CSR dari PT Pertamina.

Kepala Desa Karya Mulia, Mirel Firacha mengatakan jumlah warga di desa yang ia pimpin sebanyak 789 Kepala Keluarga (KK). 60 persen diantaranya sudah memanfaatkan pekarangan untuk toga dan sorga. “Selebihnya mengelola hewan ternak, dan untuk mengelola jenis tanaman perkebunan lainnya berupa jeruk,” terangnya.

Tidak main-main dalam pengelolaan toga. Apalagi keberadaan Toga dan Kebun Sorga milik Kelompok Wanita Tani Karya Lestari Dusun III Desa Karya Mulia ini sudah pernah menjadi Toga berprestasi di tingkat Nasional. “Alhamdulillah pada tahun 2016/2017 lalu kita berhasil menjadi juara 4 tingkat Nasional, karena itu Desa Karya Mulya sudah menjadi wisata edukasi untuk kelompok lain mulai dari kalangan mahasiswa hingga masyarakat umum yang ingin memanfaatkan pekarangan rumah,” jelasnya.

Sejak enam bulan terakhir, salah satu desa yang berprestasi di kota Seinggok Sepemunyian ini menjadi sasaran program efek berganda (multiplier effect) kegiatan Usaha Hulu Migas di daerah-daerah. KKKS turut memajukan Daerah ini dengan mendampingi warga desa melalui KWT khususnya di beberapa sektor khususnya sektor ekonomi, lingkungan dan kesehatan.

Dengan memberikan edukasi pada masyarakat mengenai proses pembuatan pupuk organik, untuk memenuhi nutrisi tanaman, hingga berhasil mendapatkan hasil pertanian yang bisa dikonsumsi, mampu memberikan manfaat sehat dan dapat menunjang perekonomian keluarga, inilah wujud kontribusi hulu migas pada penguatan perekonomian masyarakat.

“Ke depan diharapkan minimal setiap keluarga bisa mendapatkan penghasilan dari kelompok tani. Kami juga berharap kesungguhan dari Pemerintah Kota untuk terus melakukan pembinaan dan pelatihan peningkatan sumber daya alam agar toga tetap menjadi ikon desa ini,” tandasarnya.

Hal lain dituturkan Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Karya Lestari, Maryana (60). Salah seorang penerima manfaat program pertanian berkelanjutan dari Pertamina ini saat dibincangi beberapa awak media disela kunjungan panen toga dan sorga di lahan milik KWT.

Wanita paruh baya yang akrab disapa mbah Yoto ini mengatakan bahwa, mereka yang tergabung dalam KWT Karya Lestyari optimis dan berkomitmen untuk mengembangkan jenis usaha ini. Karena mereka sudah merasakan manfaatnya sejak baru merintis empat tahun lalu sebelum mendapatkan sentuhan dari pihak Pertamina seperti saat ini. Apalagi sebagai transmigran dirinya sangat bangga bisa mendapatkan sentuhan berbagai jenis bantuan dari pihak Pertamina, mulai dari berbagai jenis bibit toga dan sorga hingga pelatihan untuk pembuatan pupuk organik. Selama ini hanya menggunakan kotoran hewan (kohe), kini ditambah dengan pupuk mikro organisme lokal (MOL).

“Namanya ‘kan karya lestari insya Allah selamanya akan di lestarikan. Sebanyak 120 jenis tanaman obat termasuk sayuran sayuran organik (sorga) seperti daun min, sambiloto dan meniran, kunyit dan berbagai jenis tanaman lain dapat terus dikembangkan,” katanya bersemangat.

Ibu dari 4 orang anak ini mengaku sangat berterima kasih atas usulan bantuan Pertamina yang disalurkan di desanya. dirinya berharap agar pihak Pertamina terus lakukan pendampingan dan pemberian bantuan kepada Warga Desa untuk mempertahankan pencapaian prestasi ini.

“Kita tidak lagi memikirkan kebutuhan diri sendiri, namun memikirkan anak anak ke depan. karena itu harapan kami pihak Pertamina tidak memutuskan pendampingan. Mulai dari pelatihan dengan mendatangkan pemateri yang profesional hingga pemberian bantuan untuk menunjang perekonomian masyarakat desa,” harap nenek dari 5 orang cucu ini.

Di desa ini para masyarakat maupun pengunjung bisa mengetahui manfaat toga dan sorga yang dipajang dibeberapa titik desa. Dengan perbandingan sebelum dan sesudah menjalankan program pertanian sehat ramah lingkungan. Sebelum program pertanian sehat rumah lingkungan berkelanjutan. penggunaan pupuk kimia 600 kg per hektar per tahun, 2. penggunaan pestisida atau racun mengendap, pembelian perangsang getah, sayuran beli, berobat ke warung atau bidan.

Namun sesudah ada program pertanian sehat ramah lingkungan berkelanjutan, masyarakat mulai aktif menggunakan mikro organisme lokal, pembabakan rumput dengan mesin rumput, membuat MOL atau pupuk organik sendiri. tanam dan jual sayuran sendiri serta ada rumah toga dan herbal. Dari penyampaian tersebut mendapatkan kesimpulan bahwa, kesehatan masyarakat mulai mandiri, meningkatkan pendapatan ekonomi lokal, pemanfaatan potensi lokal atau domestik, upaya pelestarian alam, proses pembelajaran yang berkelanjutan, pengembangan dan penguatan kearifan lokal, usaha tani lebih hemat dan ekonomis.

Ketua Program Pembinaan CSR Pertamina EP Asset 2 Limau Field, Dadan Sudarti menjelaskan, program CSR ini memanfaatkan potensi lahan menjadi kawasan pertagonik (Pertanian dan toga organik). Menurut Dadan sasaran konsep CSR melalui kelompok tani dan rumah tangga. Setidaknya terdapat tujuh kelompok tani dengan pola pengambangan pertagonik menggunakan MOL.

Pihak pertamina membantu pelatihan dan pendampingan kepada kelompok tani dan ibu rumah tangga dalam proses pembuatan pupuk cair dengan nama Mol ini hingga bisa dimanfaatkan bahkan bisa dijual pada masyarakat. “Pupuk ramah lingkungan ini nih dapatkan dari limbah rumah tangga dengan pengelolaan yang sangat sederhana, yaitu sisa makanan atau limbah dapur yang sudah dikumpulkan sebanyak 1 ember,” katanya.

Kemudian lanjut dia, dicampur dengan 6 liter air beras dan dua liter air kelapa. Lalu didiamkan selama 15 hari baru disaring. Setelah disaring langsung bisa digunakan. Jika dalam keadaaan terturup, pupuk cair ini bisa tahan hingga 5 tahun. Ia mengatakan cara penggunaan cukup 400 cc per 15 liter air untuk buah dan sayur.

Pria ini menjelaskan, pengenalan pupuk organik dan cair dilakukan melalui kelompok dengan cara melakukan pendampingan dan memberikan pelatihan khusus dengan mendatangkan suhunya. Proses ini sudah berjalan kurang lebih satu tahun, pendampingan akan terus dilakukan hingga para kelompok tani sudah bisa mandiri.

Bahkan dirinya berkomitmen untuk tetap terus lakukan pendampingan merambah ke hal lain, Seperti lele organik dan ayam organik. “Kapasitas mereka tetap kita kembangkan, seperti pengembangan karet dan sawit organiorganik itu mulai menjadi topik pembahasan kita. Dengan MOL jelas lebih bagus karena ramah lingkungan, hemat biaya dan kearifan lokal yang tentunya menjadi PR kita juga untuk dikembangkan,” bebernya.

Bak gayung bersambut program yang dibantu Pertamina ini, mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Kota Prabumulih. Pada hari yang sama yaitu Selasa (01/10) Wakil Walikota Prabumulih, H Andriansyah Fikri SH meresmikan Kawasan pertaganik (Pertanian dan toga organik) binaan PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field.

Bahkan Pemkot Prabumulih mempersiapkan Desa Karya Mulia Desa sebagai percontohan kawasan pertagonik. “Melalui bantuan dan binaaan dari pihak Pertamina, diharapkan dapat memotivasi warga desa untuk lebih kreatif memanfaatkan pekarangan rumah, agar dapat memperbaiki perekonomian dan memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus meningkatkan pola hidup sehat,” kata Pria ini usai mengikuti panen bersama di KWT Karya Lestari.

Dalam kesempatan itu juga, Ketua Tim penggerak PKK kota Prabumulih, Ir H Suryanti Ngesri rahayu mengatakan, toga dan sorga termasuk dam Progam kelompok kerja (Pokja) 4 PKK bidang kesehatan. Menurut istri Wali Kota Prabumulih, Ir H Ridho Yahya MM ini, memang toga jadi sasaran utama untuk dikembangkan di Kota nanas ini.

Bahkan dirinya merasa bangga karena keinginan masyarakat mulai muncul dengan sendirinya, karena sudah merasakan manfaat yang didapat daei toga, sehingga suport dari Pemerintah Kota akan terus mengiringi sejalan dengan pihak Pertamina yang terus berperan aktif membangkitkan semangat perekonomian masyarakat.”

Karena, jika dapat memanfaatkan pekarangan rumah, maka bisa mengurangi beban keluarga dan meningkatkan pola hidup sehat dengan tidak mengkonsumsi obat kimia,” jelasnya.

Selain panen perdana kawasan Pertaganik, Wakil Wali Kota (Wawako) Prabumulih H Andriansyah Fikri dan Ketua Tim Penggerak PPK Kota Prabumulih Hj Suryanti Ngesti Rahayu didampingi oleh Manager Limai Field, M Nur dan para jajaran pejabat lainnya mencicipi teh dari tanaman Rosella (Hibiscus Sabdariffa) serta sejumlah kreasi penganan olahan para ibu-ibu warga desa berbahan dari tanaman organik, dijajakan di lokasi peresmian.

Bahkan sebagai upaya pengurangan limbah plastik, saat acara ini pihak panitia tidak menyediakan minuman kemasan melainkan menyediakan cangkir dan air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan para tamu undangan. (*)

Komentar

News Feed