oleh

Potensi Radikalisme Menurun

-Nasional-17 views

JAKARTA – Potensi radikalisme di Indonesia hasil survei 2020 mengalami penurunan. Dalam survei juga ditemukan radikalisme yang melibatkan wanita justru lebih tinggi dari laki-laki.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan berdasarkan Survei Nasional BNPT 2020 ditemukan fakta potensi radikalisme tahun 2020 menurun. Namun di sisi lain terjadi feminisasi radikalisme, urbanisasi radikalisme, radikalisasi generasi muda dan netizen.

“Tentunya ini merupakan kabar gembira. Artinya kerja-kerja kontra radikalisme telah membuahkan hasil. Menurunnya potensi radikalisme, jangan sampai membuat berpuas diri dan terlena. Justru harus terus lebih keras lagi melakukan diseminasi untuk melawan propaganda kelompok radikal intoleran dan radikal terorisme,” katanya dalam siaran persnya, Minggu (20/12).

Survei dilakukan bekerja sama dengan Alvara Strategi Indonesia, The Nusa Institute, Nasaruddin Umar Office, dan Litbang Kementerian Agama (Kemenag). Berdasarkan hasil survei, indeks potensi radikalisme tahun 2020 mencapai 14.0 (pada skala 0-100) atau 12,2 persen (dalam persentase) menurun dibanding tahun 2019 yang mencapai 38.4 (pada skala 0-100).

Ditambahkannya, radikalisasi di Indonesia secara global memang menurun. Berdasatkan global index terrorism, Indonesia menempati urutan ke-37.

“Di ASEAN, posisi Indonesia lebih rendah dibandingkan Filipina dan Thailand,” katanya.

Boy menjelaskan, dalam survei juga ditemukan terjadinya feminisasi radikalisme. Indeks potensi radikalisme pada perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Indeks potensi radikalisme pada perempuan mencapai 12,3 persen, sedangkan pada laki-laki 12,1 persen.

Selain itu juga ditemukan potensi radikalisme di kalangan urban (perkotaan) lebih tinggi dibanding kalangan rural (pedesaan). Temuan penelitian 2020 menunjukkan indeks potensi radikalisme di masyarakat urban mencapai 12,3 persen, sementara masyarakat rural 12,1 persen.

“Radikalisasi generasi muda dan netizen harus diwaspadai. Sebab berdasarkan survei indeks potensi radikalisme pada generasi Z mencapai 12,7 persen; kemudian pada milenial mencapai 12,4 persen dan pada gen X mencapai 11,7 persen,” ungkapnya.

Menurutnya, hal tersebut tidak lepas dengan fenomena netizen yang aktif mencari konten keagamaan di internet. Indeks potensi radikalisme netizen yang mencari di internet lebih tinggi (12,6 persen) dibanding dengan netizen yang tidak aktif mencari konten keagaman di internet (10,8 persen).

“Demikian pula dengan netizen yang suka menyebar konten keagamaan lebih tinggi (13,3 persen) dibanding netizen tidak menyebar (11,2 persen),” katanya.

Dijelaskan Boy, keberadaan jaringan teroris global seperti Alqaeda dan ISIS sangat mempengaruhi cara berpikir netizen terutama generasi muda. Kelompok teroris ini berharap penetrasi melalui dunia digital akan semakin banyak pendukung mereka. Intinya mereka ingin memiliki pengikut yang masif.

Karenanya, Boy menilai, kewaspadaan harus terus dilakukan. Terlebih proses radikalisasi melalui dunia maya atau digital tidak bisa dihindarkan. Pasalnya, kelompok teroris itu melihat pangsa pasarnya seperti generasi milenial, generasi Z, penggunanya sangat tinggi di dunia maya.

“Mereka tahu karena yang disasar ini anak muda, jadi bukan lagi yang tua-tua. Bagi mereka yang tua itu masa lalu, tapi masa depan mereka adalah generasi muda,” katanya.

Menurut pengamat militer Universitas Padjadjaran, Muradi Clark, target anak muda untuk pelatihan teror bukan barang baru.

Dikatakannya, sel-sel kelompok radikalisme memiliki organisasi yang bergerak sistematis. Mereka memiliki tugas dan spesialisasi di bidang siber, aksi teror nyata, propaganda, hingga kontra propaganda.

“Karena mereka dilatih kelompok teror, berikutnya mereka jadi bom-bom baru untuk bom bunuh diri kemudian melakukan kegiatan yang mengancam esensi negara melalui pejabat dan sebagainya,” ujarnya.

Menurutnya, radikalisme muncul ketika ada sejumlah kelompok intoleran dan fundamental hadir di tengah-tengah masyarakat. Kedua kelompok ini yang harus menjadi perhatian agar tak terjerumus jaringan terorisme.

“Saya kira ini bukan main-main, ini perlu secara serius dari akar, awalnya yang diluruskan kelompok intoleran dan fundamental itu. Karena itu titik awal muncul kelompok radikal dan teroris tadi. Ini pekerjaan rumah jangka panjang,” katanya.

Di sisi lain, analis terorisme dan intelijen dari Universitas Indonesia (UI), Stanislaus Riyanta menyebut para teroris remaja selalu mencari kesempatan menyasar pejabat VVIP.

“Teroris kalau punya kemampuan serta kesempatan, pasti akan menyerang VVIP,” katanya.

Dicontohkannya, serangan kepada mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto di Pandeglang, Banten, 10 Oktober 2019. Penusukan kelompok Jamaah Ansarud Daulah (JAD) itu terjadi karena sel teroris berkesempatan melancarkan aksi di lokasi.

“Terbukti pada kasus Wiranto, karena ada kesempatan waktu itu yang jelas mereka menyerang,” ujarnya.

Namun, target bisa berubah ketika kesempatan tidak muncul. Mereka mengalihkan serangan ke tingkatan lebih rendah. Contohnya, Kelompok Jamaah Islamiyah (JI) menyasar target yang menyimbolkan Amerika Serikat (AS).

“Maka yang diserang ketika bom Bali itu kan turis asing kan. Ketika ke JW Marriott (2009) itu kan simbol-simbol AS,” ujar dia.

Kelompok-kelompok radikal lebih sering menyasar kerumunan jika target utama dan kedua tak bisa tercapai. Serangan ini sebagai target tingkat emergency, seperti insiden bom Thamrin, pada 2016 dan Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada 2017.

“Jadi target itu sudah mereka petakan dengan detail, target, dan utamanya apa,” ucapnya.

Sebelumnya, Kadiv Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, pengkaderan jaringan teroris JI sudah sangat teragenda rapih. Bahkan sudah ada 91 kader JI yang dilatih siap tempur, dimana 66 di antaranya sudah dikirim ke Suriah dan beberapa sudah kembali ke Indonesia.

“Mereka (JI) sudah menyiapkan kemampuan diri dengan pelatihan-pelatihan khusus guna mempersiapkan kekuatan melawan musuh yakni negara dan aparat. Sebagian besar dari mereka juga sudah berangkat ke Suriah bergabung dengan kelompok teror di sana dan berperan aktif dalam konflik di Suriah. Kemampuan yang sudah diasah di tempat pelatihan dan medan tempur sebenarnya (Suriah) menjadikan mereka sebagai potensi ancaman nyata,” katanya.

Kader teroris ini, telah dipersiapkan melalui bagian struktur khusus. “Penanggung jawab atau amir Jamaah Islamiyah adalah Parawijayanto dan koordinator pelatihan adalah Joko Priyono alias Karso,” ujarnya.

Menurutnya, ada banyak sekali faktor penyebab tumbuhnya radikalisme secara subur di Indonesia. Salah satunya adalah maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks.

“Maraknya penyebaran hoaks tanpa filter melalui sosial media membuat paham radikal dan anti pemerintah makin subur. Dari dulu sampai sekarang radikalisasi terbentuk sebagai bagian dari respons atas ketidakadilan dan makin melebarnya kesenjangan sosial di masyarakat. Bahwa kemudian agama jadi satu alasan dalam mengekspresikan ketidakpuasan dan kebencian,” jelasnya.

Menurutnya, upaya mencegah penyebaran paham dan ideologi radikalisme di kalangan anak muda harus melibatkan seluruh stakeholder. Terutama yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan, sosial, keagamaan, komunikasi dan keamanan di lingkungan masing-masing.

“Ya perlu peran serta semua stakeholder,” ujarnya.(gw/fin)

Komentar

News Feed