oleh

Pesona Agrowisata Kebun Salak di Kota Nanas

-Metropolis-368 views

Butuh Perhatian Pemerintah

PRABUMULIH — Kota Prabumulih yang memiliki luas 434,50 KM2, ternyata memiliki perkebunan salak cukup luas. Kini kebun salak tersebut jadi salah satu pesona agrowisata di Kota Nanas.

Ya, terdapat 1 hektar kebun salak di Jalan Pustu RT 1 RW 1 Kelurahan Sukajadi Kecamatan Prabumulih Timur. Salak tersebut sudah ditanam sejak tahun 1985 lalu. Di perkebunan salak milik Joko Susilo inilah, warga bisa mencicip dan memetik salak dari batang.

Joko Susilo saat disambangi di kebun salak miliknya menuturkan, kebun salak tersebut awalnya ditanam oleh ayahnya bernama M Sedo seorang Veteran, dengan bibit biji salak dari sleman “Sudah lama, ini sudah 35 tahun sejak jaman Suharto (mantan presiden RI). Saya sudah generasi kedua, dulu awal mula coba-coba ditanam 10 ribu batang. Itu disemai bibit biji dari sleman,” kata Joko.

Seiring berjalannya waktu kata Joko, ternyata biji salak yang ditanam tersebut membuahkan hasil dan cukup menjanjikan. “Akhirnya sampai sekarang tetap salak, dan ini salak awal pertama ditanam belum ada yang diganti,” ujarnya.

Hanya  saja diakui pria 50 tahun ini, 1 hektar lahan tersebut tak lagi seluruhnya salak. “Sudah ada kandang kambing, ada juga lahan ditanam lain jadi tidak sampai 1 hektar lagi,” tuturnya mengatakan salak yang ditanam yakni salah pondoh dan salak condet.

Joko mengatakan, kebun salak miliknya sudah mulai dikenal masyarakat luas sejak tahun 1990. Saat itu banyak masyarakat lokal ataupun liar kota datang ke kebun salak, untuk berburu salak dan bibit salah sekaligus berwisata.

“Dari luar kota dulu banyak datang, pernah minta bibit. Pernah juga ada orang dari luar negeri, itu diajak sama TKI yang kebetulan pulang jadi temannya ikut. Liburannya disini, beli salak sini,” imbuhnya menambahkan selain masyarkat dari luar Kota, istri Gubernur Ir H Syahrial Oesman MM yakni Hj Maphilinda pernah menyambangi kebun salak milik Joko dan memborong buah salak dengan memetik sendiri dari batang.

Menariknya, sejak awal panen tahun 80-an hingga saat ini. Joko tak pernah menjual salaknya dipasar, atau mempromosikan salaknya dimedia sosial. “Dari awal sampai sekarang jual di kebun. Tidak pernah isi di pasar, warga yang datang petik sendiri. 1 kg Rp 10 ribu,” ucapnya mengatakan untuk hasilnya bisa minimal 5 kg hingga 60 kg dalam sehari, yang hasilnya membantu isi dapur.

Memang diakuinya, pernah mendapat tawaran dari Palembang untuk mengisi salah satu plaza. “Pernah ditawari, 1 minggu minta 1 pikul tapi kita tidak sanggup. Tapi kita juga pernah ikut Stan pameran Kabupaten Muara Enim, mewakili UKM Pertamina,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, salah satu ketua gapoktan ini menuturkan. Perawatan kebun salak tidaklah sulit. Yakni hanya dengan membersihkan daun yang ada di batang. “Buang daun sebulan sekali,  karena kalua tidak dibuang daun rimbun. Kemudian salak ini tak pengaruh dengan cuaca, pernah dulu kemarau panjang 9 bulan tapi tidak terdampak,” tuturnya.

Disinggung terkait perhatian pemerintah, menurut Joko sejauh ini belum ada perhatian khusus. Padahal menurutnya, kebun salak tersebut sudah sewajarnya dijadikan contoh.

“Tidak ada yang spesial, biasa saja. Kita lengkap disini, ada salak, duren kalapa kambing. Wajarlah kalau kebun salak dijadikan contoh. Kami ada kolam 3, lahan luas dikebun ini, berharaplah ada bantuan bibit ikan atau yang lain,” tukasnya berharap kedepan ada perhatian khusus dari pemerintah kota.

Sementara itu, meski sudah dikenal sejak tahun 90-an. Namun ternyata, keberadaan “Surga Salak” tersembunyi tersebut kalah populer jika dibanding kebun jeruk trans bali.

“Baru tau kalau di Prabumulih ado kebun salak, dak perlu jauh-jauh lagi ke Pagaralam. Cukup ke Sukajadi bae bawa keluargo kagek metik salak dewek,” kata Ayu Andira warga Kelurahan Majasari.

Namun bagi masyarakat Sukajadi, keberadaan kebun salak sudah cukup dikenal. “Kami taunyo itu kebun salak pak Sedo. Dulu bapak sering kesano, balek bawa salak,” tukas Wahyudi warga Sukajadi.(08)

 

Komentar

News Feed