oleh

Optimis Diakhir Jabatan Masalah RTLH Selesai

PRABUMULIH – Jumlah rumah tidak layak huni (RTLH) di Kota Nanas ini terus berkurang, seiring dengan sejumlah program dilakukan Pemerintah kota (Pemkot). Walikota (Wako), Ir H Ridho Yahya MM menegaskan, ada empat cara dilakukan. Yaitu; program zakat infak sodakoh (ZIS) pegawai negeri sipil (PNS) dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Corporate Social ResponsibiIity (CSR) perusahaan dan instansi vertikal, APBD, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kemen PUPR).

“Kita optimis, insya allah sebelum akhir masa jabatan periode kedua ini. Masalah RTLH, bisa selesai,” ungkap Ridho di sela-sela peresmian dan penyerahan kunci program bedah rumah dilakukan Bank Sumsel Babel (BSB), Senin (5/8). Lanjutnya, untuk menyelesaikan masalah RTLH ini. Diakuinya, perlu kepedulian semua pihak. Tidak hanya pemerintah, begitu juga pihak swasta.

“Baznas sebulan mampu menyelesaikan 10 rumah, CSR perusahaan 1-2 rumah pertahun. APBD Pemkot 40 rumah pertahun, tahun ini lewat Kemen PUPR sebanyak 300 rumah dibedah,” jelasnya. Apalagi, kata dia, di Indonesia keberhasilan Pemkot menjadi pilot project pengentasan masalah program RTLH. “Kepedulian antar sesama memang sangat penting, karena kemampuan untuk peduli masalah RTLH bisa selesai. Tidak hanya BSB saja punya tanggung jawab, tetapi juga perusahaan lain untuk ikut berpartisipasi,” sebutnya.

Sementara itu, Pinca BSB, Barita Robert S menyampaikan, penyerahan kunci RTLH menjadi Rumah Layak Huni (RLH) ini. Kata dia, bukti kehadiran Pemkot lewat BSB mewujudkan keinginan masyarakat agar memiliki RLH.

“Lewat CSR ini, BSB melakukan bentuk tanggung jawab dan sosial terhadap warga sekitar. Tidak hanya program bedah rumah telah dilaksanakan BSB, tetapi juga pembangunan fasilitas umum. Musholla dan lainnya, setidaknya bantuan diberikan bisa bermanfaat dan dinikmati masyarakat,” bebernya.

Lanjutnya, sebenarnya ini ide Pemkot. BSB sebagai salah satu bank pemerintah, jelas memberikan dukungan program. “Makanya, BSB bersinergi untuk peduli kepada masyarakat dengan membangun RTLH menjadi RLH,” bebernya. Ikhwan (51), penerima program bedah rumah BSB mengaku, bersyukur setelah satu bulan dibangun. Akhirnya, rumah miliknya berhasil ditunggu.

“Sudah bertahun-tahun, ingin bangun rumah sendiri. Penghasilan sebagai tukang cukur rambut tidak mencukupi, hanya mampu buat makan sehari-hari,” ujar ayah tiga anak ini. Ia dan istrinya, Yuningsih sangat bersyukur akhir bisa memiliki rumah yang layak untuk dihuni. “Kita hanya mampu bangun rumah papan, alhamdulillah sudah beton sekarang berkat bantuan BSB,” pungkasnya. (03)

Komentar

News Feed