oleh

New Normal Pendidikan Harus Hati-Hati

-Metropolis-51 views

 //Orang Tua Siswa Masih Was-was

PRABUMULIH – New Normal Pendidikan belakangan mendapat sorotan tanjam. Tak hanya di kalangan orang tua siswa yang masih banyak menghendaki proses pembelajaran daring, melainkan para pengamat pendidikan pun meminta agar pemerintah tidak terburu-buru mengambil kebijakan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Kecemasan sebagian besar masyarakat sangat beralasan. Mengingat pandemi Covid-19 yang masih berlangsung saat ini membutuhkan penangulangan untuk memutus mata rantai penyebaran virus mematikan itu. Jangan sampai, sekolah menjadi klaster baru penyebaran virus tersebut.

Data Kamis (4/6), berdasarkan laporan Media Harian Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, pada Kamis 4 Juni 2020 data nasional menunjukkan ada tambahan 27 kasus positif corona di Sumatera Selatan (Sumsel). Dengan penambahan kasus baru ini, total kasus positif menjadi 1.056 orang, sebelumnya mencapai 1.029 orang.

Sementara positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 28.818 orang, kemudian pasien sembuh 8.892 orang dan meninggal dunia sebanyak 1.721 orang. Ini berdasarkan rilis pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyebut ada 28.818 kasus positif COVID-19 di Indonesia. Dimana ada penambahan jumlah kasus positif baru hari ini mencapai 585 orang.

Demikian Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, dalam siaran langsung akun YouTube BNPB Indonesia, Kamis (4/6).

Dari 28.818 kasus positif COVID-19, kemudian 8.892 orang yang sembuh, ada sebanyak 486 kasus sembuh hari ini.  Sementara total angka kematian di Indonesia mencapai 1.721 orang meninggal dunia, ada penambahan kasus baru meninggal dunia hari ini sebanyak 23 orang.

Sebelumnya, per  Rabu (3/Juni) kemarin, tercatat ada 28.233  orang, sembuh 8.406 orang dan meninggal 1.698 orang. “Jaga jarak secara fisik saat beraktivitas sosial adalah komitmen bersama dalam upaya melakukan pencegahan terkait virus Covid-19,” ujar Yuri.

Virus Corona sudah menyebar di 34 provinsi. Yuri mengungkap sudah ada 418 kabupaten/kota yang memiliki kasus positif Corona. Sementara data ODP yang masih dipantau sebanyak 47.373 orang. Kemudian PDP yang diawasi sebanyak 13.416 orang.

Untuk new normal di Kota Prabumulih sendiri, rencananya Pamkot tidak memperpanjang PSBB (pembatasan sosial bersekala besar). Langkah ini untuk memulihkan kondisi ekonomi di kota nanas.

Sementara sektor pendidikan masih dilakukan pengkajian menunggu kondisi tepat. Hanya saja, sejumlah sekolah telah melakukan berbagai persiapan guna penerapan new normal pada pendidikan jika diterapkan.

Sebelumnya, Pengamat Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Prof Zulkifli Dahlan ingatkan Pemerintah Daerah, agar tidak terburu-buru membuka sekolah dan memberlakukan proses pembelajaran secara tatap muka.

Guru Besar Universitas Sriwijaya ini mengatakan bukan tanpa alasan, selain belum adanya instruksi dari pemerintah pusat, kejadian Surabaya dan di Korea Selatan yang tingkat kedisiplinan tinggi dan lebih maju dari Indonesia saja, sudah gagal menerapkan new normal.

“Di Korea Selatan yang kita tahu tingkat kedisiplinannya yang cukup baik, sekolah hanya dibuka 1 hari pada rabu lalu, dinyatakan gagal dan kini kembali ditutup karena adanya penambahan kasus baru covid-19. Hal ini harapkan menjadi pembelajaran berharga bagi Pemerintah Daerah,” jelas pria ini.

Dia juga mengatakan, berdasarkan pengamatannya, tingkat kepatuhan masyarakat terhadap Pembatasan Sosial berskala besar (PSBB) belum optimal, orang dewasa saja belum maksimal, apalagi anak-anak ditingkat Sekolah Dasar yang budaya meniru masih tinggi dan masih belum bisa menentukan baik buruk.

“Selain itu Menteri Pendidikan juga menekankan bahwa kurikulum bukan merupakan tujuan utama yang harus dicapai, melainkan penekanan penguatan pendidikan karakter pada siswa dan penerapannya dalam kehidupan sehari hari, dan itu bisa dicapai tanpa harus ada pertemuan tatap muka,”jelasnya.

Pria berusia 70 tahun ini menegaskan jika memang harus tetap melaksanakan pendidikan secara tatap muka, maka siapkan sarana sekolah untuk menekankan kedisiplinan dengan mengutamakan protokol kesehatan serta menyediakan sarana sekolah seperti hansantizier, tempat cuci tangan, kesedihan masker yang diperlukan untuk mengantisipasi jika ada siswa yang tidak membawa masker .

“Jika semua kebutuhan serta sarana yang diperlukan selama penerapan normal sudah ada, maka pertanyaan baru, siapkah kita menerima Resiko yang akan terjadi jika harus tetap menerapkan tatap muka ditengah Pandemi yang belum bisa diprediksi akan berakhir ini,” tandasnya.

Belum Ada Kepastian

Walikota Prabumulih melalui Assisten III Pemerintah Kota Prabumulih, HM Rasyid SAg MM menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka belum ada kepastian. Bahkan dari pemerintah pusat juga belum ada pernyataan apalagi edaran secara resmi.

Sedangkan persiapan yang harus dilakukan satuan pendidikan tentunya merupakan hal yang sangat penting, meskipun pada tahun ajaran baru belum melaksanakan proses pembelajaran tetap muka. Setidaknya pelaksanaan pola hidup bersih dan sehat harus menjadi perubahan, atau pembiasaan baru.

“Untuk saat ini para wali murid tidak perlu khawatir, karena pelaksanaan tatap muka masih dalam tahap wacana belum ada kepastian. karena masih menyesuaikan dengan keadaan satu bulan ke depan, lantaran menunggu pernyataan resmi dari Pemerintah Pusat,” ungkap Rasyid Kamis (4/6).

Senada disampaikan Kepala Bidang Pembinaan SD, Sri Septi Wartini SPd MH. Ia mengatakan, saat ini sekolah masih dalam tahap persiapan saja untuk pelaksanaan normal baru.

Selain masih berada di tengah pandemi, memang berdasarkan kalender pendidik saat ini para siswa sedang melaksanakan ujian menyambut libur kenaikan kelas, jadi belum ada rencana pelaksanaan pembelajaran secara tatap muka.

Mengenai kebijakan Yayasan Widya Maria untuk meminta pernyataan dari wali murid  yang memberikan izin anak mengikuti pembelajaran tatap muka, wanita ini mengatakan sah-sah saja dan itu kembali ke pihak sekolah masing-masing.

Bahkan, jika nanti ada kebijakan baru daru pemerintah pusat, untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka, tidak ada paksaan, jika memang wali murid berat, tidak masalah untuk tidak menyekolahkan anaknya.

“Tinggal lagi tugas kepsek untuk dapat menanamkan dan memberikan kepercayaan pada wali murid bahwa keamanan dijamin sekolah. Apalagi Santa Maria sebagai Sekolah di bawah naungan Yayasan, tentu akan memiliki kebijakan ssendiri untuk meminimalisir resiko,  dan itu kita maklumi,” jelasnya.

Selain itu makanya pihak sekolah diminta untuk melakukan cek suhu tubuh baik guru maupun siswa sebelum masuk lingkungan sekolah. Jika memang suhu tubuh dalam kondisi tidak normal maka tidak boleh masuk sekolah, baik siswa maupun guru.

“Sebenarnya jika sekolah sudah dibuka kembali, maka pembiasaan anak-anak untuk hidup sehat dan disiplin juga mulai menjadi kebiasaan.  Mulai dari bangun pagi, mandi pagi, sarapan, sikat gigi dan lainnya yang belum tentu dilaksanakan saat belajar di rumah. Maka, perlu  ditanamkan pola hidup bersih dan sehat mulai dari keluarga,” tandasnya.

Sebelumnya kepala sekolah SD Santa Maria Prabumulih Stefanus Triana mengatakan bahwa pihaknya mengizinkan siswa mengikuti pembelajaran tetap muka jika memang sudah ada perintah dari Dinas Pendidikan, namun dengan membawa surat keterangan dari orang tua siswa.

” Kita tetap ikuti aturan dari pemerintah kota, namun kita juga memiliki kebijakan untuk meminta surat keterangan dari wali siswa yang memberikan izin untuk mengikuti pembelajaran tetap muka, meskipun hanya 2 orang siswa, maka akan tetapi dilaksanakan, karna kita tidak mau mengambil resiko,” tegasnya.

Sebelumnuya, Indriasari warga Kelurahan Gunung Ibul Kecamatan Prabumulih Timur selaku wali murid merasa khawatir jika akan melakukan pertemuan tatap muka dalam waktu dekat ini.

Bahkan dirinya rela anaknya ketinggalan pembelajaran jika memang pemerintah tetap menerapkan proses pembelajaran secara tatap muka. “Semuanya bertujuan baik, namun jika memang pada tahun ajaran baru nanti harus tetap muka, dan keadaan kota Prabumulih masih berstatus zona merah maka saya memilih untuk tidak menyekolahkan anak saya sementara,” bebernya.

Wanita ini menilai kesehatan merupakan hal utama dalam kehidupan, sedangkan jenjang pendidikan dapat dikejar berikutnya. “Kesehatan itu mahal, jika anak-anak sehat, maka kita dapat menyekolahkan anak dengan tenang. Selain itu pendidikan juga tidak mengenal usia, jika memang harus terlambat karena keadaan ini, maka saya dan suami juga sudah siap. Yang penting kami tidak menyesali untuk menyekolahkan anak di tengah pandemi,” tandasnya.

Harus Hati-Hati

Sementara Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) meminta Pemerintah harus memperhatikan pemenuhan hak-hak anak dalam memperoleh pelayanan pendidikan selama penerapan new normal.

Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi berharap agar keselamatan dan kesehatan peserta didik dalam penerapan new normal diprioritaskan oleh Pemerintah.

“Pelaksanaan new normal di dunia pendidikan memerlukan kewaspadaan yang tinggi. Pelaksanaannya hanya dimungkinkan setelah mendengar dan menghimpun berbagai masukan dari para ahli kesehatan dan pendidikan,” kata Unifah, dalam keterangannya belum lama ini.

Untuk itu PGRI menilai, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) perlu merancang standar kurikulum minimum, proses pembelajaran dan penilaian, serta pemberian tugas.

“Hal ini penting sehingga pembelajaran bermakna dapat berlangsung dengan beban kurikulum minimal,” ujarnya.

Unifah menambahkan, bahwa pelaksanaan new normal dunia pendidikan perlu mendapatkan dukungan pemerintah pusat dan daerah. Khususnya, terkait sarana prasarana kesehatan dan dukungan orang tua untuk memastikan anak-anak tetap memathui pelaksanaan protokol kesehatan.

“Khusus untuk dunia pendidikan, kami memandang perlu kecermatan dan kehati-hatian yang tinggi dalam mempersiapkan memasuki kehidupan new normal,” imbuhnya.

Dalam survei yang dilakukan PGRI kepada orang tua, guru dan peserta didik di 34 provinsi, hasilnya sebanyak 85,5 persen orang tua khawatir jika sekolah dibuka kembali.

PGRI melakukan survei kepada 61.913 orang tua, 19,296 guru, dan 64.386 peserta didik. Survei disebar melalui jaringan organisasi di 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

“Hanya 14,5 persen orang tua yang tidak khawatir jika putra putrinya kembali ke sekolah,” ungkapnya.

Berdasarkan survei tersebut pula, sebanyak 72,2 persen orang tua dan sisanya 27,8 persen tidak setuju. Mereka juga menyatakan, siswa mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan baik sebanyak 68,5 persen dan 31,5 persen menyatakan belum baik.

“Mayoritas orang tua nampaknya tetap menghendaki pembelajaran dilanjutkan dengan cara dalam jaringan (daring). Orang tua merasa khawatir apabila sekolah dibuka kembali di tengah pandemi Covid-19 yang saat ini masih belum memperlihatkan penurunan signifikan,” tuturnya.

Sedangkan kesiapan guru dalam menghadapi new normal adalah 53,5 persen menyatakan siap, sisanya 46,5 persen menyatakan belum siap. Di sisi lain, terkait perpanjangan PJJ hingga akhir Desember 2020, sebanyak 42,6 persen siswa menyatakan setuju sementara 57,4 persen manyatakan tidak setuju.

Sementara kesiapan guru dalam menghadapi new normal adalah 53,5 persen menyatakan siap, sisanya 46,5 persen menyatakan belum siap. Di sisi lain, terkait perpanjangan PJJ hingga akhir Desember 2020, sebanyak 42,6 persen siswa menyatakan setuju sementara 57,4 persen manyatakan tidak setuju.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim menolak pembelajaran tatap muka dilakukan selama masa pandemi Covid-19 di Indonesia, meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Memang ada sekolah, terutama sekolah swasta atau mantan sekolah unggulan yang mampu menjalankannya dengan baik, tapi itu tidak layak jadi alasan untuk menerapkan pembelajaran tatap muka secara keseluruhan,” kata Ramli.

Menurut Ramli, new normal di bidang pendidikan dapat diterapkan jika new normal di luar dunia pendidikan sudah sukses dijalankan.

“Kami meminta agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tegas soal pembelajaran tatap muka selama masa pandemi,” tegasnya.

Berdasarkan data persebaran Covid-19 dari situs web covid19.go.id, per 29 Mei 2020, sebanyak 2,3 persen kasus positif corona adalah balita (0-5 tahun). Sementara sebesar 5,6 persen adalah anak-anak (6-17 tahun).

Sementara itu berdasarkan angket yang dilakukan oleh komisioner KPAI menunjukkan, bahwa mayoritas orang tua menolak sekolah dibuka kembali pada tahun ajaran baru. Selain itu, petisi ‘Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi’ hingga saat ini sudah ditanda tangani 92.715.

“Kemendikbud menurut IGI selama ini sudah sangat sering menganggap masalah serius bukan sebuah masalah, misalnya terkait status dan pendapatan guru. Di era Pandemi ini, PJJ yang masih jauh dari kesempurnaan pun dianggap bukan masalah padahal tingkat stress orang tua dan siswa sungguh sesuatu yang nyata,” pungkasnya.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, pihaknya akan membahas soal kapan masuk sekolah dilakukan bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Muhadjir bilang Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memberikan arahan kepada jajarannya untuk menggodok rencana new normal di lingkup sekolah ini secara matang. Pasalnya, Presiden disebut Muhadjir tak ingin pembukaan sekolah dilakukan secara terburu-buru.

“Untuk pengurangan pembatasan sektor pendidikan akan digodok sematang mungkin,” ujar Muhadjir.

Muhadjir bilang sektor pendidikan memang perlu perhatian khusus dan penerapan new normal akan sangat berisiko bila dilakukan dalam waktu dekat.

New Normal Pendidikan Tunggu Instruksi Mendik

Sementara Walikota (Wako), Ir H Ridho Yahya MM mengatakan terkait pembelajaran tatap muka pada dasarnya  masih menunggu instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), tetapi akunya Prabumulih melalui Dinas Pendidikan (Disdik) sudah mempersiapkan diri.

“Kadisdik bersama Kepala Sekolah sudah kita kumpulkan, untuk bersiap new normal di bidang pendidikan. Dengan mengedepankan protokol kesehatan, menjadi keutamaan,” ujar Ridho.

Belajar dirumah, kata dia, ada positif dan negatifnya. Diakuinya, memang baik tetapi anak jadi banyak waktu luang dan lebih banyak ngegames. “Berbeda dengan sekolah nantinya dengan protokol kesehatan, anak jadi sehat karena rutin beraktivitas,” terangnya.

Ia pun telah menekankan, agar Disdik dan Kepala Sekolah benar-benar memperhatikan masalah protokol kesehatan jika ingin belajar kembali.

“Bangku dan kursinya diatur untuk menjaga jarak, sediakan hand sanitizer di sekolah, wajib pakai masker, batasi jam belajar dan tidak ada keluar main,  jumlah siswa juga dibatasi untuk menghindari keramaian dan lainnya,” ucap suami Ir Hj Suryanti Ngesti Rahayu ini.

Nantinya, jika ada instruksi dari Kemendikbud, jelasnya siap melaksanakan new normal di bidang pendidikan khususnya mengedepankan protokol kesehatan. “Memang sejauh ini kita masih menunggu kebijakan new normal bidang pendidikan dari Mendikbud. Artinya di Prabumulih Belum dipustukan secara final,” pungkasnya. (der/fin/asa/05/03)

 

Komentar

News Feed