oleh

Media Sosial Jadi Penyebab Tertinggi  Kedua Kasus Perceraian

PRABUMULIH —  Hampir selama 8 bulan beroperasi, perkara yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) kota Prabumulih cukup tinggi. Yakni mencapai 245 perkara, dengan 212 perkara diantaranya sudah diputus.

Nah, dari perkara yang masuk sangat mengejutkan, dimana 90 persen perkara yang diajukan ke PA merupakan kasus perceraian.

“Untuk sisanya perkara Isbat nikah, dispensasi, dan perkara harta,” kata Kepala Pengadilan Agama (PA) Prabumulih Suryadi SAg SH MH dibincangi diruang kerjanya, Jumat (21/6).

Lebih mengejutkan lagi, salah satu penyebab banyaknya janda dan duda di Kota Nanas ini, dikarenakan pengaruh media sosial. Bahkan media sosial, menjadi penyebab tertinggi  kedua kasus perceraian yang ada di Kota Prabumulih.

 “Yang pertama memang karena ekonomi, ditalakkan suami istilahnya. Tapi kedua karena media sosial, jadi istri nuduh suami selingkuh karena baca WA nya. Dari media sosial lah. Kalau karena LGBT belum ada sejuah ini,” ungkap mantan Humas PA Depok ini.

Untuk gugatan cerai disampaikan Suryadi, memang lebih didominasi oleh cerai gugat yakni istri yang mengajukan cerai, dari pada cerai talak (gugatan suami).

“Kalau usia yang mengajukan cerai lebih banyak dibawah 40 tahun, karena memang usia 5 — 10 tahun perkawinan itu rentan cobaan, fitnah dan lain-lain,” bebernya menuturkan setidaknya ia sudah menyidangkan 1 ASN.

Sebagai PA yang belum genap 1 tahun beroperasi, diakui Suryadi kasus yang masuk ke PA memang terbilang tinggi untuk PA baru. Meski begitu kata dia, untuk kasus perceraian tertinggi yakni di PA Palembang. “Tapi untuk PA baru Prabumulih peringkat ketiga dari segi jumlah, dibanding Martapura dan Pangkalan Balai,” tuturnya.

Selaku PA lanjut dia, sejumlah upaya tentu dilakukan agar kasus yang masuk tak sampai ke perceraian. Diantaranya yakni, dengan cara dilakukan perdamaian melalui mediasi.
“Jadi betul-betul berlapis, keluara juga diminta jadi penengah. Kita tetap ada upaya wajib, agar tidak langsung putus (cerai). Dan sejauh ini sudah ada yang menarik gugatan, katanya hanya emosi sesaat saja,” lanjutnya.

Masih ungkap pria asal OKI ini, untuk gugatan perceraian di Kota Prabumulih lebih rumit dari beberapa daerah yang sudah ditanganinya. “Mungkin karena sudah kota, jadi jawaban mereka lebih kritis tajam ketimbang PA lain yang lebih banyak manut saja,” tukasnya.(08)

Komentar

News Feed