oleh

Korban Tsunami Trauma Kembali

-Nasional-314 views

JAKARTA – Penurunan peringatan dari BMKG diharapkan masyarakat jadi lebih tenang. Terutama mereka yang tidak terdampak langsung tsunami dan memilih tinggal di pengungsian karena takut.

Ya, lebih dari 10 ribu orang yang tinggal di pengungsian bukan karena rumahnya rusak diterjang tsunami di Selata Sunda. Tapi, mereka mengungsi karena takut dan trauma (lihat grafis).

“Diharapkan mereka bisa kembali lagi ke rumah masing-masing,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarkat BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Dijelaskannya, Dari 20.726 pengungsi, kurang dari 10.000 orang adalah pengungsi yang disebabkan rumah rusak. Sedangkan lebih dari 10.000 pengungsi adalah pengungsi yang mengungsi karena trauma.

“Sejalan dengan evakuasi yang masih dilakukan, perbaikan sarana juga menjadi fokus pemerintah,” terang Sutopo seraya menyebut total 1.012 rumah rusak dengan perincian 70 rusak ringan, 671 rusak berat, dan 25 rusak total.

Saat ini, lanjut dia pembaruan status itu karena penurunan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK). Sementara pantauan satelit Himawari menunjukkan sebaran abu vulkanik makin berkurang.

“Untuk warga yang rumahnya rusak sedang diupayakan untuk dapat bantuan pendirian huntara (hunian sementara, Red), kebutuhanya 696 unit. Kalau bisa secepatnya,” imbuh Sutopo.

Ditambahkannya, ada 11 lokasi yang ditetapkan untuk jadi lokasi pembangunan huntara di Pandeglang. Diantaranya di Lapangan Desa Bojen Kecamatan Sobang, Lapangan Desa Gombong, Desa Teluk Lada, Kampung Pasirmalang Desa Keryajaya, Kampung Palingping Desa Tunggaljaya, dan Desa Banyubiru.

Terpisah Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly mengungkapkan pertimbangan penurunan radius zona kewaspadaan tersebut adalah inforamsi dari Badan Geologi Kementerian ESDM. Badan Geologi memastikan penurunan erupsi gunung Anak Krakatau.

“Masyarakat yang berada di zona pantai atau pesisir Selat Sunda, terutama di wilayah Pantai Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kota Cilegon diminta tetap tenang dan mewaspadai zona dalam radius 500 m dari tepi pantai,” jelasnya.

Selain itu Sadly juga menghimbau masyarakat untuk terus memonitor perkembangan informasi terkait kewaspadaan bahaya tsunami. BMKG juga menyampaikan informasi tinggi gelombang laut untuk periode 31 Desember 2018 hingga 3 Januari 2019.

Gelombang dengan tinggi lebih dari 6 meter berpeluang terjadi di laut Natuna Utara dan Cina Selatan. Kemudian gelombang setinggi 2,5 meter hingga 4 meter berpeluang terjadi diantaranya di perairan selatan Jawa Barat hingga Bali. (fin/ful)

News Feed