oleh

Kisah di Balik Nama Tikungan Padi. Dikenal Karena Pabrik Padi, Sejak Dulu Rawan Kecelakaan

Sebagian besar warga Kota Nanas mungkin sudah hafal dengan nama Tikungan Padi. Namun tidak banyak yang mengetahui sejarah di balik nama daerah yang terdapat di Dusun Prabumulih ini.

NAMA Tikungan Padi sudah cukup melekat di ingatan sebagian besar warga Kota Nanas. Namun hanya sebagian di antaranya yang mengetahui sejarah di balik nama itu.

Sesuai namanya, Tikungan Padi diambil dari nama sebuah pabrik padi yang dulu berlokasi tepat di daerah tersebut. Pabrik padi itu sudah berdiri sejak 1950-an namun sayang sejak dibongkar pada 1990-an nyaris tak ada sisa bangunan.

“Dulu di situ ada sebuah pabrik padi, pemiliknya adalah Hasanudin. Pabrik itu berdiri sejak 1950-an,” terang salah seorang tokoh masyarakat, H Ahmad Azadin BE.

Lokasi pabrik padi tepat berada di sudut tikungan baik dari arah pasar Prabumulih-ataupun dari simpang Bawah Kemang yang saat ini berdiri sebuah tiang baliho rokok berukuran cukup besar. Nyaris tidak ada sisa bangunan pabrik padi di lokasi itu. Yang ada, hanyalah rumah warga.

Jalan tersebut sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Dahulunya, dinamai jalan Rambang dan terdapat banyak jalur pipa minyak Pertamina. Namun pada sekitar 1970-an, jalur pipa dipindahkan ke jalan Profesor M Yamin dan nama jalan Rambang berganti menjadi jalan Jendral Sudirman hingga saat ini.

“Jadi namanya bukan karena tikungannya yang mirip batang padi yang melengkung, tapi di situ dulu ada pabrik padi,” cerita mantan Ketua DPRD itu dibincangi di kediamannya di jalan Mentawai Kelurahan Gunung Ibul Barat (GIB), Kecamatan Prabumulih Timur.

Satu hal yang menjadi ciri daerah itu, yakni dikenal rawan kecelakaan. Dan menurut Azadin, daerah itu memang sejak dulu sudah rawan kecelakaan. Tak sedikit kendaraan dan pengguna jalan meninggal dunia karena tewas menabrak dinding pabrik padi.

Bahkan saking rawannya, pemilik pabrik pernah memasang bantalan rel kereta api di sekitar lokasi kejadian. Tujuannya agar pengendara tak kecelakaan dan tewas karena menabrak dinding pabrik. Tapi rupa-rupanya, kecelakaan tak terhindarkan meski tak menabrak dinding pabrik pengendara menabrak bantalan rel.

“Hampir setiap tahun ada korban jiwa, jumlahnya mungkin sudah tak terhitung. Makanya jadi dianggap rawan dan angker. Padahal bukan soal mistisnya, mungkin karena kondisi jalan dan kurangnya kehati-hatian pengendara yang menyebabkan kecelakaan,” ujar mantan Kepala SMK YKPP (Sekarang, SMK YPS). (*)

News Feed