oleh

Keterbatasan Kouta, Terpaksa Tolak Santri

PRABUMULIH – Pondok Pesantren (PPM) Al Furqon di Desa Jungai, Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT) tetap menjadi pilihan masyarakat Prabumulih dan sekitarnya untuk mendidik anaknya dengan berbasis agama.

Ini dibuktikan, tahun ajaran baru ini setidaknya ada sekitar 300 murid terdiri santri dan siswa yang belajar di PPM Al Furqon. Mulai dari tingkat Raudhatul Atfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Islam (STIEI).

“RA kita sediakan 4 kelas, MI dan MTs 23 kelas, MA 9 kelas, dan STIEI 4 kelas. Alhamdulillah, murid kita mengalami peningkatan cukup drastis,” aku Pimpinan PPM Al Furqon, KH Mahmudi Basri MPdI dibincangi awak media, Selasa (16/7) di sela-sela pembukaan kegiatan belajar mengajar (KBM).

Kata Mahmudi, saking banyaknya peminat masuk al furqon. Karena, keterbatasan kouta. Lalu, kelas, asrama, dan fasilitas. PPM Al Furqon, terpaksa menolak murid.

“Belajar dengan baik, menimbah ilmulah dengan baik. Jadi anak soleh, patuhi aturan PPM dan jangan melanggar. Semoga berhasil dan bisa mewujudkan cita-cita. Belajar merupakan kewajiban, agar bisa jadi lebih baik,” sebutnya.

Diakuinya, selama ini PPM Al Furqon menjadi solusi bagi masyarakat, untuk mendidik anaknya dengan bekal agama untuk menghadapi kemajuan zaman.

“Di pembukaan KBM ini, sengaja kita tampilkan kreatifitas murid. Untuk memberikan semangat, bagi adik kelasnya. Untuk memiliki kreatifitas sama dengan murid senior,” bebernya. (03)

Komentar

News Feed