oleh

Kemendag Dinilai Tak Mampu Atasi Kelebihan Produksi Unggas

-Nasional-173 views

JAKARTA – Sejak bulan Februari 2019 harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di beberapa daerah turun. Sejumlah akademisi pun berkomentar, salah satunya jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Defiyan Cori, dia menilai ada kementerian yang belum menjalankan fungsi dan tugasnya secara maksmal.

Padahal sudah jelas berdasarkan UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara dijelaskan apa saja fungsi dan tugas semua kementerian. Misalkan Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki tugas pokok menangangi produksi, sedangkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengurus terkait perdagangan dan harga baik di tingkat petani maupun konsumen.

Tetapi faktanya yang terjadi, kata Defiyan, Kemendag tak mampu mengatasi kelebihan produksi unggas. Seharusnya, masalah ini Kemendag bisa membuka pasar ekspor unggas dan turunannya ke berbagai negara.

Nah ini kan harusnya menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan untuk terus mendorong ekspor, melalui atase-atase perdagangannya yang ditugaskan di beberapa negara,” kata Defiyan dalam keterangannya, Selasa (5/3).

Defiyan beranggapan bahwa selama ini Kemendag hanya fokus melakukan pengaturan harga acuan di tingkat konsumen. Sedangkan menurutnya, di saat kondisi harga di tingkat peternak di bawah penetapan harga acuan belum ada kebijakan khusus untuk merespon fenomena tersebut.

Begitu harga di tingkat konsumen naik, pemerintah langsung cepat turun tangan melakukan operasi pasar, atau bahkan jika produksi kurang langung dipenuhi dengan impor. Langkah responsif juga seharusnya diambil ketika harga anjlok di tingkat peternak, ujar Defiyan.

Merujuk Undang-undang No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan disebutkan pada pasal 26 bahwa Kementerian Perdagangan menetapkan kebijakan harga, pengelolaan stok dan logistik, serta pengelolaan ekspor/impor dalam rangka menjamin stabilisasi harga kebutuhan pokok.

Inilah yang perlu disinergikan untuk memformulasikan kebijakan yang tepat, manakala harga acuan baik di level petani maupun konsumen di bawah atau di atas harga acuan yang ditetapkan. Tentunya dalam hal ini Kemendag mempunyai peran penting terkait informasi dan stabilisasi harga, ucap Defiyan.

Lanjut Defiyan, daging ayam berdasarkan Perpres Nomor 71 Tahun 2015 merupakan satu di antara jenis bahan pangan pokok yang perlu dijaga ketersediaan dan stabilisasi harganya.

Sudah semestinya, barang kebutuhan pokok dan barang penting yang telah ditetapkan, termasuk di dalamnya daging ayam menjadi perhatian pemerintah dalam mengatur ketersediaan dan stabilisasi harga, pungkasnya.

Sementara Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Oke Nurwan ketika dimintai tanggapannya, hanya menjawab singkat, bahwa pihaknya selalu membuka pasar ekspor ke sejumlah negara. “Ekspor selalu terbuka,” jawab singkat Oke kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Indonesia saat ini sebanyak 268.075 ribu jiwa, konsumsi per kapita 12,13 kg per tahun. Proyeksi produksi daging ayam nasional tahun ini berdasarkan data dari Kementerian Pertanian sebanyak 3.647,81 ribu ton, sedangkan kebutuhan daging ayam nasional tahun ini mencapai 3.251,75 ribu ton, sehingga mengalami surplus sebanyak 396,06 ribu ton.(din/fin)

News Feed