oleh

Harus Kompak, Jika Mau ke Puncak

TROMOL – Panjat pinang merupakan salah satu tradisi bangsa ini, setiap kali 17-an. Oleh semua warga, panjat pinang tontonan dan hiburan gratis, patut disayangkan jika terlewatkan pada peringatan 17 Agustus, Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Termasuk, bagi warga Prabumulih umumnya dan khususnya, warga jalan Tromol Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Prabumulih Selatan. Lomba panjat pinang, salah satu lomba yang ditunggu-tunggu dan selalu dipertandingkan setiap kali 17-an.

Panjat pinang berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi. Namun sekarang tidak lagi, dan menjadi perlombaan di setiap 17-an.

“Berbagai lomba sengaja kita suguhkan, setiap kali 17-an untuk meriahkannya. Termasuk, tahun ini juga kita adakan berbagai lomba tak kalah meriahnya. Kita siapkan dua pohon pinang, untuk panjat pinang,” kata Sarwendi, penyelenggara kegiatan menuturkan kepada koran ini, akhir pekan lalu.

Kedua pohon pinang tersebut sengaja dipasang didampingi kanan tenda podium, di puncaknya sudah terpasang berbagai hadiah yang disiapkan panitia untuk segera dipanjat atau diambil.

Dari bawah terlihat hadiah yang cukup menarik, dan memang bukan semata karena hadiahnya, perlombaan ini menjadi seru. Ketika, acara lomba panjat pinang hendak dimulai. Puluhan orang terlihat dengan cepat merapat, membentuk lingkaran mendengarkan pengarahan dari panitia.

Beberapa saat kemudian, empat anak-anak mulai bersiap. Umumnya, mereka yang memiliki badan besar di bawah, begitu seterusnya hingga yang bagian atas adalah yang memiliki postur tinggi dan kecil dengan harapan lebih ringan.

“Jangan berharap mencapai ke puncak, jika tidak kompak. Apalagi, pohon pinangnya dibuat licin menggunakan minyak gemuk,” jelas Wendi, begitu sapaan akrabnya.

Selain itu, waktu yang diberikan untuk mendaki sampai puncak cukup singat hanya 5 menit perkelompok. Jika gagal, harus menunggu kembali kelompok yang lain menyelesaikan tatangan tersebut. Biasanya setiap pinang diikuti 3-4 kelompok.

“Untuk anak-anak tinggi pohon pinang hanya 5 meter, sedangkan untuk dewasa sekitar 7 meter. Cukup menantang dan seru memang, karena cukup sulit menuju ke puncak,” akunya sambil mengibaratkan, seperti Indonesi jika tidak ada kekompakan atau persatuan dan kesatuan. Jelas, tidak akan bisa merdeka seperti sekarang ini.

Butuh waktu, sekitar satu jam lebih untuk menaklukkan pohon pinang tersebut. Satu persatu kelompok itu tumbang. Jangan kan menyentuh bendera, bisa mencapai satu meter di bawah hadiah saja, itu membutuhkan perjuangan yang sulit.

“Terlebih harus dilakukan sedemikian cepat, mengingat penumpu di bawah tentu tidak bisa bertahan lebih dari 5 menit. Tampak mereka yang menjadi penumpu di bawah meringis menahan beban 4 orang rekan yang berdiri di atasnya,” ucapnya.

Sempat juara tahun lalu, bukan berarti mudah bagi Aka (13) dan timnya untuk menaklukkan pohon pinang anak-anak. Kali ini, ia cukup kesulitan untuk menuju ke puncak.

Setidaknya, tiga kali hingga empat kali mencoba. Aka dan kawan-kawan, akhirnya gagal membawa pulang hadiah yang telah disiapkan dipuncak pohon pinang. “Minyak gemuk yang cukup banyak, membuat pohon pinang licin. Dan, tim kita tidak bisa menuju puncak dan ‘pulang tangan kosong,” ujar pelajar yang masih duduk dibangku SMP.

Meski, gagal menuju puncak. Lomba panjat pinang, ke depan menjadi targetnya untuk membawa pulang hadiah. “Mudah-mudahn, tahun depan bisa ke puncak dan bawa pulang hadiah,” harapnya.

Sementara itu, penonton yang ramai berada dibawah pinang memberikan semangat kepada peserta lomba panjat pinang tersebut. Supaya, bisa mencapai puncak dan membawa pulang hadiah.

Berbeda dengan Nando (13) dan timnya, meski sempat kesulitan menuju puncak. Dan, badan dipenuhi minyak gemuk. Akhirnya, berkat kerja keras dan kekompakan timya. Hadiah dipuncak pohon pinang, berhasil diambil dan dibawa pulang.

“Awalnya, memang kita dan tim kesulitan. Apalagi, minyak gemuknya cukup tebal yang membuat licin. Tetapi, setelah tiga kali mencoba teman kita berhasil ke puncak. Itu pun sempat nyaris gagal. Untuknya, kita kembali membuat tangga manusia untuk menolongnya,” ujar pelajar SMP ini.

Keberhasilannya, membawa pulang hadiah. Tidak ada trik khusus, hanya mengandalkan kekompakan dan juga kekuatan fisik saja. Karena, kalau fisik tidak kuat. Jelas, tangga manusia akan roboh.

“Terutama dibagian bawah, harus bisa menahan beban tiga orang diatasnya. Supaya, bisa ke puncak dan membawa pulang hadiah,” tutupnya. (06)

News Feed