oleh

HARI INI, PSBB DIPUTUSKAN

-Metropolis-408 views

//Perpanjang atau Dihentikan

PRABUMULIH – Hari ini (9/5), berakhirnya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Nanas ini.

Menentukan PSBB diperpanjang atau tidak, Pemerintah kota (Pemkot) mengundang Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) untuk melakukan evaluasi sekaligus sebagai penentu.

“Betul, pelaksanaan PSBB besok (hari ini, red) berakhir. Kita (Pemkot) mengelar rapat bersama Forkompinda, untuk melakukan evaluasi dan memutuskan PSBB diperpanjangan atau tidak,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kabag Humas, M Zahri Desa Putra SE kepada awak media, Senin (8/5).

Ungkapnya, rencananya rapat Forkompinda digelar pukul 09.00 WIB di Ruang Rapat Lantai 1, Gedung Pemkot. “Undangan sudah kita sebar, besok rapat bakal dilakukan,” tukasnya.

Ungkap Jeri, sapaan akrabnya sejak awal penerapan PSBB, diambil keputusan berdasarkan kesepakatan Forkompinda. “Begitu juga, PSBB diperpanjang atau tidak. Juga, ditentukan hasil kesepakatan Forkompinda. Pemkot tidak bisa memutuskan sendiri, karena ini menyangkut kepentingan masyarakat,” tukasnya.

Lanjut Jeri, sudah jelas dasarnya, PSBB atau tidak. Di Prabumulih, pantauannya penerapan PSBB relatif baik dan ketat. Masyarakat relatif patuh dan taat terhadap protokol kesehatan, pelanggaran juga tidak terlalu banyak. “Tidak ada penambahan kasus cukup signifikan,” ucapnya.

Sebelumnya, Walikota (Wako), Ir H Ridho Yahya MM mengatakan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir pada 9 Juni mendatang bisa saja diperpanjang.

Syaratnya, kata Ridho, masyarakat tidak patuh dan tertib pada pelaksanaan PSBB. Tetapi, kenyataannya tidak terjadi di Prabumulih. Pantauannya, hampir 14 hari pelaksanaan PSBB jalanan sepi. Lalu, toko-toko banyak tutup, masyarakat, hampir 90 persen memakai masker.

“Selain itu, harus ada penambahan kasus signifikan setiap harinya. Sementara itu, Prabumulih cendrung stagnan dan tidak ada penambahan kasus berarti setia harinya,” tukas suami Ir Hj Suryanti Ngesti Rahayu ini.

Masih kata ayah tiga anak ini, tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan juga relatif tinggi di Kota Nanas ini. “Rata-rata masyarakat, sudah memakai masker. Pelanggaran PSBB, relatif kecil. Jaga jarak juga dilakukan, penyediaan tempat cuci tangan dimana-mana, keramaian juga tidak ada. Pasar sepi, kendaraan luar sudah dilakukan pengalihan,” beber ayah dr Muwarni Emassrisa Latifah.

Pemberlakukan PSBB, tukasnya sangat ketat di Prabumulih ini. Petugas PSBB melakukan tugasnya dengan baik dan humas, tidak memenuhi syarat tidak bisa masuk kota. “Jadi, PSBB kemungkinan besar tidak diperpanjang asalkan masyarakatnya tetap patuh dan taat protokol kesehatan dan tidak ada penambahan kasus menonjol,” bebernya.

Harus Jadi Budaya Baru

 Protokol kesehatan harus dijadikan budaya masyarakat. Penerapan new normal atau normal baru langkah awal menciptakan budaya baru tersebut.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan penerapan protokol kesehatan harus menjadi budaya baru di tengah masyarakat. Penerapan normal baru sebagai langkah mewujudkannya.

“Saya kira yang harus dipahami bahwa protokol kesehatan itu harus menjadi budaya di tengah masyarakat, kendati sudah mulai ada normal baru,” katanya, Minggu (7/6).

Terlebih bagi para lanjut usia (lansia) sebagai kelompok paling rentan terhadap penyebaran COVID-19. Mereka harus tetap berada di rumah dan menjadikan protokol kesehatan sebagai budaya sekaligus identitas.

Menurutnyanya, ada tiga hikmah yang bisa diambil dari pandemi COVID-19 dalam memulai kehidupan sehari-hari yang sehat.

Pertama, hidup sehat dengan tetap menggunakan masker, membiasakan mencuci tangan, dan hidup disiplin. Kedua, tetap produktif saat di rumah, Work From Home (WFH) itu berarti harus akrab bekerja dengan teknologi, misalnya rapat secara virtual.

“Ketiga, back to home, kembali ke rumah, berkumpul dengan anggota keluarga, yang bisa jadi saat sebelum terjadi COVID-19 anggota keluarga sulit untuk berkumpul karena sibuk bekerja dan menghabiskan waktu di jalan,” lanjutnya.

Terkait penerapan protokol kesehatan prosedur dan adaptasi kebiasaan baru di tengah masyarakat, Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis mengaku jajarannya akan siap mendukung langkah tersebut.

Hadi Tjahjanto mengatakan Prajurit TNI dan Polri menjalankan tugas di lapangan dengan berinteraksi secara humanis kepada masyarakat. Mereka akan mengajak masyarakat untuk tetap bersama-sama menjaga protokol kesehatan itu sehingga masyarakat bisa beraktivitas namun tetap aman dari COVID-19.

“Pada masa transisi ini, (prajurit) TNI-Polri sudah melaksanakan perbantuan kepada pemerintah daerah yang tujuannya agar jangan ada kasus-kasus baru COVID-19 untuk itu kedisplinan protokol kesehatan terus kami galakkan dengan menerjunkan anggota di zona merah dan juga zona hijau,” katanya di Istana Bogor usai berjalan Sehat dengan Presiden Joko Widodo.

Dikatakannya anggota TNI dan Polri telah diterjunkan di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota yang masuk zona merah. Selain itu anggota TNI dan Polri juga sudah diterjunkan di 102 kabupaten/kota yang merupakan zona hijau untuk mengajak dan mengingatkan masyarakat untuk berdisiplin menerapkan protokol kesehatan dan kenormalan baru.

Pada kesempatan yang sama Kapolri Idham Azis menyampaikan bahwa kunci utama bagi masyarakat untuk produktif namun tetap aman dari COVID-19 adalah disiplin mengikuti protokol kesehatan dan imbauan pemerintah.

“Saya bersama Bapak Panglima, mengimbau kepada masyarakat ayo kita bersama mendisiplinkan diri agar kita terhindar dari Covid ini karena Covid-19 ini tidak memilih siapa yang akan menjadi sasarannya. Ini penting, pembelajaran mengenai disiplin tadi,” kata dia.

Selain itu di zona merah, tentara dan polisi juga akan ditambah jumlahnya. “Mereka akan turun di 138 kabupaten/kota zona kuning penyebaran COVID-19,” katanya. (03/gw/fin)

 

Komentar

News Feed