oleh

Harga Tiket Pesawat Turun

-Nasional-384 views

JAKARTA – Penurunan tarif penerbangan harus dilakukan secepatnya. Langkah ini ditempuh, setelah Presiden Joko Widodo Menteri mendengarkan keluhan masyarakat. Kementrian Perhubungan (Kemenhub) pun berjanji, paling lambat pekan depan, tarif kembali normal.

Ya, Presiden Rabu (13/2) memanggil sejumlah menteri, di antaranya Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. “Tadi Pak Presiden sudah memberikan arahan. Ya diusahakan minggu ini,” terang Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Ia akan bertemu dengan manajemen perusahaan penerbangan termasuk Garuda Indonesia untuk mencari jalan keluar supaya tarifnya lebih bisa diterima masyarakat. Menhub menyebutkan kenaikan tarif penerbangan terjadi pada awal 2019 dibanding 2018 sebesar 10-20 persen. “Kalau dibahas naiknya itu 10-20 persen, kalaupun naik, ini menyangkut korporasi, kita gak boleh intervensi. Biar mereka yang kalkulasi,” katanya.

Terkait harga avtur, Menhub mengatakan kontribusi BBM dalam tarif penerbangan sekitar 25-40 persen. Ia mengatakan terkait harga avtur dan angkasa pura, hal itu merupakan kewenangan kementerian BUMN.”Nanti tanya Bu Rini. Kan Bu Rini yang handle. Kalau saya sebagai regulator tidak mengatur hal-hal itu,” katanya.

Haryadi berharap peran pemerintah untuk mengatasi monopoli Pertamina dalam menjual avtur. “Selain itu dengan bergabungnya Sriwijaya Air ke kelompok Garuda dan Citilink menjadikan di Indonesia hanya ada dua kelompok penerbangan yakni kelompok Garuda dan kelompok Lion Air sehingga mengarah pada terjadinya kartel,” katanya.

Pemerintah, lanjut dia dapat mengatasi persoalan-persoalan di dunia pariwisata sehingga pariwisata Indonesia akan bisa berdaya saing tinggi. Masih beriatan dengan mahalnya tiket, Budi menjelaskan untuk avtur sendiri menelan porsi 25%-40% dari struktur biaya dan berpengaruh ke keuangan pesawat. Tapi, selain avtur, pemerintah juga meminta maskapai melihat efisiensi di tempat lain. “Seperti leasing, paling besar,” ucapnya.

Tidak hanya Garuda, maskapai swasta seperti Lion juga disebut akan diimbau untuk turunkan harga. Pemerintah, kata dia, coba mempertimbangkan kepentingan masyarakat sekaligus usahanya. “Balance, kita pikirkan semuanya. Airlines dipikirkan, tapi masyarakat juga,” katanya.

Terpisah, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi Sukamdani mengatakan sektor pariwisata Indonesia terganggu kinerjanya karena masalah melambungnya harga tiket pesawat.
Hal itu, kata dia dipicu karena dihapuskannya harga tiket kelas promo menjadi harga normal sehingga kenaikan rata-rata harga tiket mencapai 40 persen. “Lalu ditambah dengan sejumlah maskapai yang mengenakan kebijakan bagasi berbayar. Ini menjadikan harga tiket maskapai asing justru lebih murah,” timpalnya.

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan kenaikan tarif tiket pesawat disebabkan oleh adanya persaingan yang tidak sehat antar maskapai yang sebelumnya berlomba menjual tiket penerbangan dengan harga murah.”Jadi kalau kita tekan terlalu murah tiketnya, juga bagus untuk jangka pendek. Tapi jangka panjangnya, mereka tidak bisa beli pesawat baru, akhirnya kita yang kena juga,” kata JK.

Kembali JK menjelaskan menjual tiket penerbangan komersial dengan harga murah memang menguntungkan dengan mendapat banyak peminat penumpang, namun keuntungan itu hanya berlaku dalam jangka pendek.
Wapres memberikan contoh sejumlah maskapai berbiaya murah yang akhirnya menutup perusa haan karena tidak lagi mampu membayar biaya operasional.”Mengelola ‘airlines’ itu tidak mudah, apalagi kalau mau ditarik murah. Sudah berapa airlines yang tutup? Ada Batavia dulu, ada Adam Air, ada Merpati, ada Mandala, ada Sempati; semua itu kan tutup, bangkrut,” tambahnya.

Dengan adanya persaingan tidak sehat tersebut akibatnya industri transportasi udara di Indonesia didominasi antara lain oleh dua perusahaan besar, yakni PT Garuda Indonesia (Persero) dan PT Lion Mentari Airlines. JK pun mengatakan dominasi tersebut juga salah satunya disebabkan oleh matinya maskapai yang menjual harga tiket pesawat murah.

“Menurut saya bukan kartel, karena mereka terlalu murah akhirnya yang lain mati. Jadi bukan karena didesain, tapi karena mereka mencoba-coba masuk ‘airlines’ dengan tarif murah, ya mati,” katanya.

Maka, untuk menghindari kepanikan masyarakat dalam menghadapi kenaikan harga tiket pesawat, Wapres meminta seluruh perusahaan penerbangan untuk duduk bersama dan menentukan biaya tetap operasional. “Saya kira, walaupun mereka (maskapai, red.) bersaing, mereka juga harus tetap menghitung biaya tetapnya, ada harga pokok daripada BBM itu. Karena 35 persen dari ongkos pesawat itu avtur kan,” ujarnya. (ful/fin)

News Feed