oleh

Gubernur : Saya Apresiasi Kerja Walikota Prabumulih

-Metropolis-85 views

 

PRABUMULIH – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H Herman Deru SH MM tidak hanya mengapresiasi kinerja Walikota (Wako) Prabumulih dalam menekan dan menurunkan angka penyebaran Covid-19.

Dari nomor dua tertinggi, menjadi nomor tujuh tertinggi jumlah kasus Covid-19. Tetapi, aku Deru, juga perhatian Pemerintah kota (Pemkot) Prabumulih terhadap tenaga kesehatan (Nakes), sebagai garda terdepan melawan virus Wuhan tersebut.

“Sebelum Pak Wako, laporan. Saya sudah baca di koran, kalau Prabumulih telah mencairkan insentif bagi nakesnya,” ujar Mantan Bupati OKUT dua periode di sela-sela kunjungannya ke Prabumulih dalam rangka peninjauan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Lanjut orang nomor satu di Provinsi Lumbung Energi ini, perhatian kepada nakes ini sebagai semangat baru bagi nakes dalam menghadapi gelombang penyebaran Covid-19, melayani pasien belum tahu sampai kapan.

“Saya ucapkan terima kasih, Pak Wako karena sudah mencairkan insentif nakes. Hingga, mereka tetap punya semangat untuk berjuang melawan Covid-19,” terang suami Hj Febrita Usia SE.

Singgungnya, kedatangannya ke Prabumulih, memang dalam meninjau pelaksanaan PSBB sudah sejauh mana. “Dan saya melihat keseriusan Prabumulih, menekan Covid-19 sangat luar biasa. Saya berterima kasih atas kerja maksimal dan optimal dalam penanganan dan penanggulangan Covid-19 ini,” jelas ayah Hj Percha Leanpuri BBus.

Ucap ayah empat anak ini, laporan Wako dan Kapolres, menjadi acuan kebijakannya untuk melanjutkan PSBB atau tidak.

“Ada dua, tantangan dihadapi selama Covid-19. Pertama, tidak pernah tahu kapan berakhir. Tidak ada deskripsi kepastian akan berakhir. Mengakibatkan pemerintah, sulit untuk membuat program bagi daerah,” bebernya.

Lalu, sebutnya, target ekonomi dan pembangunan, sehingga mengalami kegagalan. “Kita sangat apresiasi Prabumulih, sukses menekan. Turunnya menekan, jadi tolak ukur keberhasilannya. Kedua, belum ditemukannya vaksin. Kebijakan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) akhirnya terpaksa berdamai dan berdampingan Covid-19,” tukasnya.

Sambungnya, penerapan PSBB mengedepankan humanis. Tetapi, meski hal itu dilakukan tidak mengurangi ketegasan agar mata rantai Covid-19.

“Itu dilakukan untuk kepentingan semua, untuk memutus mata rantai. Masyarakat harus patuh dan taat serta disiplin, khususnya masalah protokol kesehatan,” tambahnya.

Ada kebijakan Presiden RI, terkait program new normal menghadapi Covid-19 harus disambut dengan gembira. Hal ini, untuk peningkatan ekonomi, pembangunan, dan lainnya.

“Tujuan ke Prabumulih, juga dalam rangka mengaungkan new normal,” tukasnya.

Mendorong kesadaran masyarakat, ia mendorong Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) untuk gencar sosialisasi terkait mematuhi dan menaati protokol kesehatan.

“Agar masyarakat, benar-benar sadar untuk menekan angka penyebaran Covid-19,” pintanya.

Sementara itu, Wako, Ir H Ridho Yahya MM mengucapkan, tunjangan nakes sudah dicairkan dua bulan dan juga menyediakan rumah sehat sebanyak 15 kamar di Hotel Gran Nikita bagi nakes. Bukan hanya itu saja, 15 insentif masyarakat termasuk pemandi jenazah, guru ngaji, pengali kubur, dan lainnya juga telah dicairkan.

“Penggunaan Rapid Test, terpaksa dilakukan sebagai antisipasi atau pencegahan penyebaran Covid-19. Dinilai efektif, untuk screening awal Covid-19. Kita telah berupaya membeli PCR, tetapi tidak diperbolehkan. Sehingga, hanya mengandalkan Rapid Test,” terang Ridho.

Menjawab permintaan Gubernur terkait Pasar Pagi di PTM II, karena menimbulkan kemacetan dan juga lainnya. “Sudah dilakukan pemindahan, dan belakangan agen sayur dari sejumlah kota sebagai pemasok di Prabumulih sudah nyaman,” pungkasnya. (03)

 

Komentar

News Feed