oleh

Gempa Tektonik Goyang Jawa-Sumatera

-Nasional-135 views

JAKARTA – Gempa tekntonik getarkan Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Gempa dari titik Samudera Hindia Selatan Jawa ini berkekuatan magnitudo 7,4 terjadi pukul 19.03 WIB. Fenomena alam ini, disusul dengan peningkatan status waspada menyusul terjadinya erupsi dua kali berturut-turut Gunung Tangkupan Parahu, Jawa Barat.

Dari data yang diterima Fajar Indonesia Network, gempa dengan episenter terletak pada koordinat 7.54 LS dan 104.58 BT. Tepatnya di laut pada kedalaman 10 KM berpotensi tsunami. Masyarakat khususnya di wilayah pesisir diimbau untuk melakukan evakuasi.
Menurut rilis dari BMKG yang diterima di Jakarta, Jumat menyebutkan gempa ini berpotensi tsunami dengan peringatan dini untuk wilayah Pandeglang bagian Selatan dengan status ancaman Siaga (ketinggian maksimal 3,0 meter).
Kemudian wilayah Pandeglang Pulau Panaitan dengan status ancaman Siaga (ketinggian maksimal 3,0 meter). Lalu wilayah Lampung-Barat Pesisir-Selatan dengan status ancaman Siaga (ketinggian maksimal 3,0 meter).
Sementara Pandeglang Bagian Utara dengan status ancaman Waspada (ketinggian maksimal 0,5 meter), Lebak dengan status ancaman Waspada (ketinggian maksimal 0,5 meter).

BMKG mengimbau kepada masyarakat di wilayah dengan status “Siaga” diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk melakukan evakuasi. Lalu, kepada masyarakat di wilayah dengan status “Waspada” diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk menjauhi pantai dan tepian sungai.

“Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, dalam rilis yang diterima tadi malam (2/8).

Sementara itu, warga Kota Bandarlampung merasakan getaran besar yang terjadi berkisar pukul 19.04 WIB. Informasi yang diterima dari lokasi pesisir, warga setempat seperti Gudang Lelang, Gubuk Sero, dan Kangkung ke luar dari rumah dikarenakan panik.

Mereka ke luar untuk berjaga-jaga karena takut adanya tsunami dan mencari tempat yang lebih tinggi. “Barusan saja. Ya kami keluar rumah,” kata Budimansyah salah satu warga Gudanglelang, Telukbetung lewat pesan WA.
Senada disampaikan Septi Iswarini warga Kecamatan Tanjungsenang. “Goyangnya terasa sekali. Kami sampa keluar rumah. Getarannya cukup lama. Kami masih di luar rumah, berjaga-jaga,” terangnya.

Berdasarkan data dari Badan Metorologi dan Klimatologi, Geofisika (BMKG) Jumat, (2/8) pukul 19.03.21 WIB wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa diguncang gempa tektonik. Dari hasil analisis menunjukkan gempa ini memiliki kekuatan M=7,4. Episenter terletak pada koordinat 7.54 LS dan 104.58 BT tepatnya di laut pada kedalaman 10 km dan berpotensi tsunami.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terhitung Jumat (2/8) pukul 08.00 WIB menaikkan status Gunung Tangkuban Parahu yang berlokadi di di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Jawa Barat (Jabar) dari dari Level 1 (Normal) menjadi Level II (Waspada).

“Masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan pengunjung, wisatawan, pendaki, (diimbau) tidak mendekati kawah yang ada di puncak Gunung Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 Km dari kawah aktif,” kata Kepala PVMBG, Kasbani dalam konferensi pers di kantor PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/8).

Status waspada diberikan menyusul terjadinya erupsi dua kali berturut-turut setelah erupsi yang terakhir terjadi pada Jumat (26/7) lalu. Kasbani menjelaskan, Gunung Tangkupan Parahu kembali erupsi pada Kamis (1/8) pukul 20.46 WIB dan pada Jumat (1/8) pukul 00.43 WIB, dan Jumat (2/8) pukul 00.43 WIB. “Aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu saat ini masih berada dalam kondisi yang belum stabil dan aktivitas serta potensi erupsi dapat berubah sewaktu-waktu,” jelas Kasbani.

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM itu menyebutkan, ancaman bahaya yang terjadi saat ini berupa hujan abu serta hembusan gas vulkanik dengan konsentrasi berfluktuasi di sekitar Kawah Ratu yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa pengunjung, pedagang, masyarakat sekitar, bila kecenderungan konsentrasi gas-gas vulkanik tinggi. “Erupsi freatik dan hujan abu di sekitar kawah berpotensi terjadi tanpa ada gejala vulkanik yang jelas,” ungkap Kasbani.

Hasil pemantauan PVMBG secara visual, menurut Kasbani, menunjukkan bahwa aktivitas permukaan paska erupsi yang terjadi pada tanggal 26 Juli 2019 masih didominasi oleh hembusan asap dari kawah utama (Kawah Ratu) dengan ketinggian sekitar 20 200 meter dari dasar kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

Secara seismik, lanjut Kasbani, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih didominasi oleh gempa-gempa yang mencerminkan aktivitas di kedalaman dangkal berupa Gempa Hembusan. Setelah erupsi terjadi, rekaman seismik didominasi oleh gempa Hembusan dan Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-31 mm (dominan 0.5-20 mm).

“Terekamnya Tremor ini berkaitan dengan pelepasan tekanan berupa hembusan-hembusan yang terjadi sampai saat ini diikuti oleh rangkain erupsi tanggal 1 dan 2 Agustus 2019,” ujar Kasbani.

Selain mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 1,5 Km dari kawah aktif, Kepala PVMBG Kasbani dalam konferensi pers itu juga meminta masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala vulkanik yang jelas.

Selain itu, Kasbani meminta masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu untuk tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang letusan, dan tetap memperhatikan perkembangan kegiatan Gunung Tangkuban Parahu dan mengikuti arahan yang dikeluarkan oleh BPBD setempat.

“Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jabar dan BPBD Kabupaten Bandung Barat serta BPBD Kabupaten Subang,” papar Kasbani. (ful/fin)

Komentar

News Feed