oleh

Full Day School Dinilai Tak Efektif

-Pendidikan-526 views

Rasyid: Penerapannya Otonomi Sekolah

PRABUMULIH – Sejak beberapa tahun lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan lima hari sekolah atau Full Day School (FDS).

Nah, di kota Prabumulih penerapan FDS yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2017 tentang Revisi Beban Kerja Guru sudah diterapkan oleh beberapa sekolah. Baik SMP maupun SMA, khusus untuk SMA dengan beberapa pertimbangan, beberapa sekolah kembali memutuskan untuk tidak menerapkan FDS atau kembali sekolah seperti biasa, yakni SMAN 4 dan SMAN 5.

Sedangkan SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 6 dan SMAN 7 tetap menerapkan FDS dan SMAN 8 memang masih reguler karena belum layak untuk menerapkan FDS. “Di Kota Prabumulih untuk SMA semuanya menerapkan FDS namun, SMAN 5 dan SMAN 4, baru menerapkan tahun ajaran ini, sebagai ajang uji coba dan sudah merasakan selama 2 bulan dinyatakan tidak efektif, sehingga kembali menerapkan sekolah seperti biasa,” kata Ketua Musyawarah Kerja kepala sekolah (MKKS) SMA Kota Prabumulih, Ruslan Maladi MPd.

Terkait penerapan FDS, masih banyak siswa dan wali murid yang menilai penerapan FDS tidak efektif. Bahkan dinilai justru menurunkan konsentrasi belajar. “Kadang ada waktunya males belajar, hingga siang. Tapi karena aturan sekolah, mau tidak mau kita harus mengikuti,” kata siwa SMAN 1.

Yani salah satu wali murid siswa SMAN 3 mengaku dibuat repot oleh FDS. Pasalnya para orang tua harus mempersiapkan kebutuhan anak lebih pagi dari biasanya. Karena para siswa harus tetap mengikuti proses kegiatan belajar mengajar pada waktu yang harusnya tidur siang.

“Kita sebagai orang tua harus memenuhi kebutugan anak, harus menyiapkan bekal karena selain jajan, anak juga harus bawa bekal dari rumah. Kadang kasian dengan anak yang harus pergi pagi hungga sore untuk belajar di sekolah,” terang Yani.

Sementara itu Asisten III Pemerintah Kota Prabumulih, HM Rasyid SAg MM menyikapi penerapan FDS menerangkan FDS merupakan otonomi sekolah. Di kota Prabumulih, tak ada aturan khusus untuk menerapkan FDS dari Penerintah Kota, karena sampai saat ini Pemerintah Kota Prabumulih tidak ada aturan khusus untuk sekolah menerapkan pelaksanaan FDS seperti di Kabupaten dan Kota lain.

“Semua sekolah memiliki kebijakan masing-masing untuk penerapan FDS dengan mempertimbangkan beberapa hal. Diantaranya sarana pendukung yang dibutuhkan selama penerapan FDS, mulai dari ruang kelas kebutuhan mushola kantin sekolah yang bisa memenuhi kebutuhan para siswa selama berada di sekolah mulai dari pagi hingga sore hari,” jelasnya.

Karena itu kata dia, di Kota Prabumulih sebagian sekolah belum berani menerapkan FDS secara permanen. Bahkan untuk SMP belum ada yang menerapkan FDS murni. Namun semuanya sudah semi FDS dengan pulang pada pukul 14.00 dan hari Sabtu diisi dengan kegiatan pengembangan diri.

“SMP memang sampai saat ini belum ada yang menerapkan FDS murni, hari Sabtu SMP tetap sekolah seperti biasa. Hanya saja proses belajar mengajar di dalam kelas hanya satu hingga dua jam pelajaran, selebihnya diisi dengan aktivitas pengembangan diri yaitu semua kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang dilaksanakan pada hari Sabtu,” tukasnya.(05)

FDS jadi Beban Siswa

PRAKTISI Pendidikan Akhmad Muftizar Z SIP MEd justru menilai penerapan FDS hanya membenani siswa, sebab waktu istirahat siswa menjadi berkurang. “Waktu untuk mereka refreshment jadi sedikit, jangan bersamsumsi bahwa FDS akan menjadi solusi yang jitu karena ini berkaitan dengan kesiapan skolah, keterlibatan siswa didik serta dukungan ortu,” terangnya menambahkan rentang waktu usia manusia memiliki kebutuhan psikolagis dan biologis tertentu dan tidak bisa disamakan.

Selain dinilai menjadi beban siswa, penerapan FDS juga berkaitan dengan sarana prasarana sekolah termasuk kecukupan tenaga pengajar.

“Sekolah harus benar-benar menjadi rumah kedua bagi mereka, apakah toiletnya sudah memadai. Dan sebagainya, kemudian bayangkan kalau anak SD dipaksa ikut FDS bisa-bisa ketika siang mrka kelelahan dan trtdur di kelas. Belum lagi ortu yang harus mendukung dengan kesiapan logistik,” ungkapnya.

Kemudian kata dia, bila FDS berkaitan dengan beban kerja guru yg dianggap kurang dari ASN lainnya. Hal itu tidaklah seharusnya dipenuhi melalui FDS. “Bisa saja umpamanya guru yang membuat modul atau materi ajar baik di sekolah atau dirumah dihitung dan ditambahkan sebagai beban kerja untuk mencukupi jam. Atau biarkan saja dunia pendidikan berbeda dengan irama kerja ASN lainnya. Toh menjadi guru itu bukan pkerjaan yang mudah walau nampkanya seperti mudah,” tandasnya.(08)

Komentar

News Feed