oleh

Ekspor Batik Naik USD 52,4 Juta

JAKARTA – Industri tenun dan batik terus mendapat tempat di hati warga dunia. Kalkulasi nilai ekspor tahun lalu, kain tenun ikat mencapai USD976 ribu, sementara ekspor batik senilai USD 52,4 juta. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengatakan, besarnya nilai ekspor membuktikan bawha batik Indonesia mulai bersaing di kancah global karena mampu memenuhi permintaan pasar internasional.

“Kemenperin berkomitmen untuk semakin meningkatkan produktivitas dan inovasi IKM tenun dan batik nasional. Apalagi, Indonesia mempunyai keunggulan dari para perajin yang kreatif dan kekayaan budaya. Upaya ini sejalan dengan tujuan menumbuhkan industri kreatif, ujarnya, Jumat (15/3).

Untuk itu, Kemenperin mulai membidik sejumlah kegiatan ekonomi kreatif yang menonjolkan khazanah Budaya Indonesia. Menurutnya, kegiatan ini telah terbukti turut berperan serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan gairah pasar kain adat. “Tidak hanya batik, kain adat dan tenun kita luar biasa jumlahnya. Tentunya kita maendorong ada effort seperti pameran,” jelasnya.

Direktur IKM Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka Kemenperin, E. Ratna Utarianingrum mengatakan, salah satu bentuk dukungan promosi kain tenun dan batik adalah Pameran Adiwastra Nusantara 2019 yang mulai dihelat di Jakarta sejak Rabu (13/3) lalu.

Adiwastra Nusantara yang telah digelar sejak tahun 2008, menjadi pameran kain adat terbesar di Indonesia yang telah diselenggarakan setiap tahun di Jakarta. Pada tahun ini, Kemenperin memberikan kontribusi yang jauh lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya.

Ratna megungkapkan, fasilitasi yang diberikan antara lain booth pameran untuk 36 industri batik dan tenun yang meliputi 20 booth dari Direktorat Jenderal IKMA dan 16 dari Direktorat Jenderal IKFT.

Selain itu, terlibat pada penyelenggaraan fashion show saat opening ceremony dengan tema Tenun Donggala, yang bekerjasama dengan desainer Didit Maulana sebagai salah satu wujud pembangunan perajin tenun di Sulawesi Tengah pascabencana tsunami.

Untuk di acara talkshow pada 22 Maret 2019 di panggung harian Pameran Adiwastra dengan tema IKM Tanggap Digital, menghadirkan narasumber dari Shopee dan Founder Cloth Inc yang merupakan binaan Ditjen IKMA Kemenperin di program Bali Creative Industry Center (BCIC) yang telah berhasil menjalankan bisnisnya di pasar online, paparnya.
Menurutnya, ajang ini merupakan momen yang baik dalam upaya meningkatkan jangkauan pasar IKM tenun dan batik yang lebih luas terutama ke kancah eskpor.

Berdasarkan catatan Kemenperin, sebagian besar pembuat kain tenun dan batik adalah sektor IKM yang tersebar di sentra-sentra industri. Sentra industri batik sebanyak 101 sentra, dengan jumlah 3.782 unit usaha dan menyerap tenaga kerja hingga 15.055 orang. Sentra industri batik ini antara lain terdapat di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta dan Jawa Barat.

Sedangkan untuk IKM tenun, terdapat 368 sentra dengan jumlah 14.618unit usaha dan menyerap tenaga kerja sebanyak 57.972 orang. Hampir setiap provinsi memiliki wastra tenun, baik yang dibuat dengan alat tenun gedogan maupun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). (fin/tgr)

News Feed