oleh

Dua Minggu Razia, 39 Angkutan Berat Ditilang

PRABUMULIH – Penegakan Peraturan Walikota (Perwako) No 56/2015 tentang ketentuan penyelenggaraan Jalan Lingkar Timur dan Jalan Jenderal Sudirman terus dilakukan.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub), Drs Mulyadi Musa MSi dikonfirmasi mengatakan, selama dua minggu melakukan razia, usai safari ramadhan di depan Rumah Dinas (Rumdin) Walikota (Wako) sebanyak 39 angkutan berat distop.

“Notabene melanggar Perwako No 56/2015, kita tindak tegas. Mobilnya, kita kenakan sanksi tilang. Apalagi, sudah jelas aturannya. Angkutan berat, tidak boleh melintas dalam kota dan harus lewat Jalan Lingkar,” ujarnya, Senin (20/5).

Sambungnya, penilangan dilakukan setelah dilakukan pengecekan banyak angkutan berat mati KIR, dan tidak ada izin masuk kota.

“Sebanyak 39 angkutan berat kita tilang selama dua minggu ini, terakhir penindakan kita lakukan Sabtu lalu. Sebanyak 14 angkutan berat kita tindak tegas untuk penegakan Perwako No 56/2015,” sebut Mantan Kabag Humas ini.

pihaknya mengimbau, agar angkutan berat melalui jalan yang sudah ditentukan yaitu lewat Jalan Lingkar, sebagai jalan alternatif dan juga jalan milik negera. Sementara itu, jalan kota hanya untuk angkutan ringan dan kendaraan pribadi.

“Angkutan BBM, angkutan sembako, angkutan bahan bangunan, angkutan sayuran. Memang diperkenankan jalan dalam kota, sehingga tidak menghambat proses distribusinya. Tetapi, tetap harus mengantongi izin untuk melintas. Bisa diurus di Kantor DPMPTSP. Kalau tidak salah, ada retribusinya untuk PAD,” ucapnya.

Lanjutnya, razia penegakan Perwako No 56/2015 ini akan terus dilakukan untuk memberikan efek jera bagi angkutan berat yang bandel dan tetap memaksa masuk dalam kota.

“Intens kita lakukan, termasuk juga penindakan terhadap pelanggarnya,” bebernya.

Sementara itu, Roni, salah satu sopir angkutan berat mengaku, memilih lewat Jalan Sudirman. Lantaran, jalanannya cukup mulus dibandingkan Jalan Lingkar kondisinya makin hari makin parah.

“Dari sisi keamanan juga lebih aman, kalau tidak konvoi rawan jadi aksi kejahatan. Terkadang, kita juga terpaksa membayar meminta kawal oknum lewat dalam kota,” sebutnya. (03)

Komentar

News Feed