oleh

dr Alamudin Tergun Dokter Pertama di Prabumulih

-Metropolis-225 views
  • Pendiri Museum Anatomi Pertama di Indonesia

  • Hampir Jadi Ahli Nuklir di Republik Ceko

PRABUMULIH – dr Alamudin Tergun masuk dalam salah satu daftar yang diusulkan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Prabumulih.

Usulan tersebut tentu bukan tanpa alasan, mengingat dr Alamudin Tergun warga asli Kota Prabumulih garis keturunan puyang Bungkuk, adalah warga Prabumulih pertama kali menyandang gelar dokter ditahun 1960-an lulusan universitas terbaik di Indonesia yakni Universitas Indonesia (UI).

Selain itu, kiprah dr Alamudin yang lahir di Prabumulih 4 Mei tahun 1938 ini dibidang pendidikan tak lagi diragukan. Berkat dr Alamudin jualah, banyak putra asli Kota Prabumulih yang termotivasi yang akhirnya menjadi dokter-dokter hebat di Kota Prabumulih.

“Usia ayah saya sekarang 82 tahun, orang Prabumulih pertama yang kuliah kedokteran tahun 1960 dan tamat 1966. ” kata dr Ferry Alrahmi SpB anak kedua dari dr Alamudin Tergun kepada wartawan Rabu (5/8/2020).

“Ayah saya jadi sejarah orang Prabumulih pertama yang sekolah dokter, perintis, pionerlah ketika itu. Menjadi pembuka jalan memberikan semangat untuk pemuda Prabumulih bahwa orang Prabumulih itu mampu menembus sekolah diluar Sumatera. Karena disana sangat diimpikan dan memang orang terpilih,” tuturnya.

Tak heran, kediaman dr Alamudin di Jakarta menjadi “markas” bagi pemuda Prabumulih yang akan menimba ilmu terutama kedokteran saat di Jakarta. “Jadi rumah  kita dulu itu ramai, dokter-dokter hebat di Prabumulih ini dulunya sebelum ada tempat ke tempat kita. Ayah saya mendukung mensuport jangan sampai tidak selesai sekolah mereka,” terangnya.

dr Alamudin juga melanjutkan S2 kedokteran di UI dengan spesialis anatomi atau ilmu yang mempelajari struktur tubuh manusia. Sejak saat itulah, dr Alamudin mengajar seluruh fakultas kedokteran di Jakarta. Bahkan ia menjadi dosen selama 40 tahun.“Jadi dosen bukan hanya di FKUI, tapi juga Fakultas Kedokteran hampir seluruh Jakarta karena waktu itu memang masih sedikit. Sedangkan fakultas mulai bermunculan ketika itu,” terang dokter Ferry yang berdinas di RSUD Kota Prabumulih ini.

Tak puas hanya sebagai dosen bagi mahasiswa di sejumlah universitas ternama.  Berbekal ilmu anatomi yang telah dipelajari, dr Alamudin mengajarkan ilmu anatomi kepada tuna netra selama 25 tahun. “Yang tuna netra diajari anatomi sehingga mereka bisa mijat dan mencari nafkah,” ujar dr Ferry seraya mengatakan ayahnya pensiun menjadi dokter ditahun 2010 lalu.

dr Alamudin Tergun juga merupakan pencetus dan pendiri muesum anatomi pertama di Indonesia yang dibangun di FKUI. “Pertama kali yang punya ide bikin di FKUI, kemudian buka cabang lagi di Yarsi dan akhirnya seluruh fakultas buka,” lanjutnya.

Nah, dengan menjadi dosen selama 40 tahun di sejumlah universitas kedokteran di Jakarta terang dr Ferry. Sudah ribuan alumni yang mendapat ilmu dari dr Alamudin selama menjadi dosen, bahkan alumni tersebut sudah banyak menjadi dokter hebat dan bekerja di deputi maupun kementerian kesehatan. “Murid ayah saya banyak, diseluruh Indonesia ada yang sudah jadi profesor, ada yang sudah bekerja di kementerian,” tuturnya.

Diakui dr Ferry nama dr Alamudin mungkin tak begitu familiar di Prabumulih, khususnya anak anak remaja ini. Namun, nama itu justru dikenal luas oleh masyarakat atas kiprahnya sebagai seorang dosen kedokteran. “Kalau yang muda-muda mungkin tidak tau, tapi kalau yang sudah umur 50 keatas pasti tau. Dan kalau di daerah daerah di Indonesia banyak yang tau,” terangnya.

Sejumlah prestasi atas jasanya dibidang pendidikan kedokteran lanjut dr Ferry, puluhan piagam penghargaan sudah diterima oleh dr Alamudin. Mulai dari presiden  Suharto, dari departemen tenaga kerja sebagai instrurktur ilmu anatomi  dalam proyek penataran juri pijat tunanetra. Penghargaan dari persatuan tunanetra Indonesia, dari Departemen sosial. “Banyak penghargaan untuk ayah saya,” imbuhnya.

Nah, berdasarkan kisah  dr Alamudin dalam bidang kedokteran kata dr Ferry. Sangat layak nama RSUD Kota Prabumulih diberi nama dr Alamudin.  Diakuinya, meski dr Alamudin tak sempat mengabdi di Kota Prabumulih namun perannya untuk Prabumulih sangatlah penting. “Jasanya banyak diluar untuk masyarakat Prabumulih. Dan untuk sebuah pengabdian tidak harus ditempat. Kalau istilahnya dia menteri luar negerinya, walaupun tidak banyak di Prabumulih tapi membawa nama harum Prabumulih di luar bahkan di Indonesia,” ungkapnya sembari mengatakan selayaknya nama untuk RSUD menyandang gelar dokter seperti kebanyakan RS di Indonesia.

Disampaikan dr Ferry, dengan banyaknya relasi dan histori latar belakang dr Alamudin dibidang pendidikan ilmu kedokteran. Tentu akan membuka jalan dan lebih mudah bagi Kota Prabumulih dalam memajukan RSUD khususnya untuk menerima bantuan dari kementerian.

“Kalau namanya RSUD dr Alamudin, yang diluar tau. Oh itu dosen saya, jadi ada semacam keterikatan. Dan Insyal Allah bisa menjadi akses,  Untuk mempermudah kalau ada keperluan di kemeterian. Kan di kementeian kesehatan banyak murid dia. Kalau dengan nama ini jadi strategis, jadi memag tidak sekedar nama ada informatif, historis  ada kebanggagan masyarakat Prabumulih ada warganya berprestasi,” terangnya saat ini dr Alamudin masih dalam kondisi sehat.

Dari dr Ferry juga diketahui, sebelum memilih menjadi mahasiswa kedokteran ternyata dr Alamudin nyaris menjadi ahli nuklir. Ketika itu, dr Alamudin memilih mengikuti tes beasiswa luar negeri bersama mantan presiden Indonesia Bj Habibie. “tesnya mereka bareng, duduk dekatan. Pak Habibi lolos dikirim ke Jerman. Ayah saya lulus, tapi dikirim ke Ceko teknik Nuklir. Begitu lulus lapor ke orang tuanya. Tidak diizinkan, kata orang tuanya  jangan berangkat, kalau berangkat tidak kembali lagi itu negara komunis,” tukasnya sembari bergurau mengatakan bila ketika itu ayahnya yang dikirim ke Jerman bisa saja sudah menjadi Menteri Riset Teknologi.

Sementara dr H Iwan Hasibuan mantan Kadinkes Prabumulih membenarkan, dr Alamudin dikenal baik dan berjasa bagi pemuda Kota Prabumulih yang menempuh pendidikan kedokteran di Jakarta. “Termasuk saya, itu dulu dipinjamin buku. Banyak juga membantu dokter-dokter dari Prabumulih yang khususnya di Jakarta,” katanya. (08)

 

 

Komentar

News Feed