oleh

Dolar Naik, Ini Dampaknya yang Terjadi di Prabumulih

-Metropolis-154 views

PRABUMULIH – Harga dollar ($) terhadap rupiah (Rp) makin menguat, kini sudah Rp 15 ribuan persatu dollar. Kenaikan dollar tersebut berdampak pada perekonomian, khususnya di Prabumulih. Dampak kuatnya dollar, salah satunya berpengaruh pada dunia usaha pengadaan barang (supply) di lingkungan perusahaan.

Salah satunya diungkapkan Ketua Asosiasi Vendor Prabumulih (Avena), Ade Irama SH MM. Semenjak kenaikan dollar, ia dan sesama supplier makin menjerit. Pasalnya, harga yang ditawarkan perusahaan sudah tidak lagi sesuai dengan harga sekarang imbas kenaikan dollar tersebut.

“Awal-awal kenaikan dollar terpaksa mengurangi untung, namun lama kelamaan tidak bisa lagi. Akhirnya, lelang (tender) ditawarkan akhirnya batal. Karena harga barang ditawarkan tidak cocok lagi,” jelas Ade, begitu sapaan akrabnya dikonfirmasi, kemarin (7/10).

Pengadaan barang tersebut, kata dia meliputi; valve, flange, chemical, dan lain-lainnya. “Karena, harganya sangat bergantung dengan dollar. Kalau dollar naik, yah naik dan lainnya,” tukasnya sambil menerangkan, kalau supllay saja terpengaruh dollar. Sedangkan, jasa konstruksi tidak.

Pihaknya kata dia, sudah meminta penyesuaian harga dari perusahaan dengan harga dolla sekarang. Tetapi, perusahaan berkeberatan dan tetap menginginkan harga semula.

“Dari pada rugi, karena tidak ada kesepakatan. Akhirnya ditunda sampai ditentukan tender ulang. Kita sebagai supplier jelas ada margin keuntungannya. Dirasa masih memadai dan tidak memberatkan, lelangnya pasti kita ambil,” bebernya.

Ia hanya berharap, perusahaan yang membutuhkan barang melakukan penyesuaian harga. Sehingga, supplier tidak terus menjerit dan merugi.

“Apalagi harga dollar terus merangkak naik,” tambahnya.

Pantauan koran ini, kemarin dollar juga mempengaruhi daya beli masyarakat di Pasar Tradisional Prabumulih. Terlihat makin sepinya, keadaan pasar terbesar di Kota Nanas ini.

Yati (45), salah satu pedagang sayuran mengaku, kalau harga sayuran relatif stabil. Bahkan, cenderung turun seperti bawang merah harganya dari Rp 16 ribu menjadi Rp 14 ribu.

“Kalau harga stabil, hanya pembeli makin sepi. Mungkin, karena pengaruh dollar disebabkan daya beli masyarakat terus menurun,” akunya.

Sebagai pedagang kecil pihaknya berharap dollar segera stabil. Sehingga, daya beli masyarakat kembali tinggi. Pasar kembali ramai, pendapatnya sebagai pedagang meningkat.

“Kalau dollar terus naik, maka pasar makin sepi. Kita terancam gulung tikar,” ujar

Erwin, pedagang tempe mengungkapkan, kalau harga kedelai bahan baku pembuat tempe stabil. Harganya, perkilonya masih Rp 8 ribu.

“Makanya, harga tempe kita jual tetap. Memang pembelinya saja sepi di pasar, karena daya beli memang sedang turun. Akibat dollar terus naik,” bebernya.

Kata dia, sekarang ini penghasilnya pas-pasan saja. Cukup makan dan minum serta kebutuhan keluarganya, berjualan tempe ini. “Semoga saja dollar stabil lagi, pasar ramai penghasilan meningkat,” tukasnya.

Jhoni, pedagang manisan mengatakan, hanya harga beras yang mengalami kenaikan pasca kenaikan dollar belum lama ini.

“Beras per-sak 20 kg mengalami kenaikan dari Rp 205 ribu jadi Rp 210 ribu, kebaikannya memang tidak besar,” bebernya.

Demikian pula berimbas pada penjualan elektronik di Bumi Seinggok Sepemuyian ini, harga elektronik pun terdongkrak naik hingga 6 persen.

Alex, Pemilik Toko Sinar Terang di Kawasan Klenteng mengatakan, penjualan elektronik terus drop pasca kenaikan dollar. Belakangan ini, penjualan elektronik sudah turun hingga 30 persen.

“Kalau modal barang lama yang kita jual harga lama, kalau modal barang baru yah kita jual dengan harga sekarang ini. Kasian konsumen,” akunya.

Sambungnya, penjualan elektronik belakangan ini makin sepi. Konsumen membeli kebutuhan elektronik disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, ia hanya menyediakannya saja.

“Paling banyak penjualan memang televisi, kulkas, AC, dan lain-lainnya,” ucapnya.

Sebenarnya, kata dia tidak masalah dollar naik. Tetapi, harus diimbangi harga hasil bumi. “Tidak seperti sekarang, dollar naik hasil bumi harganya tetap. Wajar kalau, konsumen daya belinya kurang,” kata dia.

Sementara itu, Pemimpin Cabang (Pinca) Bank Panin, Fernando Siahaan mengatakan, suku bunga deposito sendiri sekarang ini naik dari 6,25 persen menjadi 6,5 persen.

“Itu upaya pemerintah, supaya warga menabungkan uangnya di deposito. Tujuannya, tidak lain menguatkan nilai tukar rupiah atau menurunkan nilai tukar dollar,” tukasnya. (03)

News Feed