oleh

Dijadikan Objek “Seseran” BRT Mahasiswa Kumpulkan Bukti

PRABUMULIH – Tarif murah Rp 5ribu bagi Mahasiswa asal kota Prabumulih pengguna Bus Rafid Transit (BRT), dilanggar oleh oknum pegawai BRT. Hingga kini, sejumlah mahasiswa masih terus mengeluhkan tingginya tarif yang ditarik oleh BRT.
Nah, tak sesuainya tarif tersebut membuat mahasiswa protes. “Kami tahu betul tarif untuk mahasiswa jauh dekat hanya Rp5ribu. Tapi kenyataannya ini tidak terjadi,” kata Wiwik salah satu mahasiswa asal Kota Prabumulih.
Menurut Wiwik, masing-masing BRT terkadang menarik tarif beragam mulai dari tarif normal, Rp 10ribu hingga Rp15 ribu. “Walaupun kami sudah menggunakan kartu mahasiswa sangat jarang diminta normal, kalau tidak Rp 10ribu biasanya Rp 15ibu seperti penumpang umum,” keluhnya.
Mahasiswa lainnya Didi, mengungkapkan alasan penarikan tarif mahal tersebut beragam, mulai dari jarak yang jauh hingga alasan lainnya. “Dan yang paling membuat kami kesal mereka bilang kami tidak makan kalau kamu bayar Rp5ribu. Karena kami tau mereka sudah ada gaji sendiri,” bebernya.
Ketua Himpunan Mahasiswa Prabumulih (HMP) Ahmad Galih membenarkan keluhan tentang tarif diluar kesepakatan tersebut. Bahkan dengan dijadikannya mahasiswa sebagai objek “seseran” mahasiswa Prabumulih sepakat untuk melaporkan BRT ke Walikota Ir H Ridho Yahya MM.
“Tak sekedar mendengar keluhan dari rekan-rekan mahasiswa, kita juga PP jadi tau persis tentang tarif yang mereka (BRT) minta. Jelas kami menyayangkan, kok masih-nyari-nyari seseran, kan mereka ada gaji sendiri,” tegasnya.
Saat ini ungkap Galih, pihaknya mulai mengumpulkan bukti agar oknum BRT nakal segera ditindak. “Akan langsung kita adukan ke Pak Walikota, sekarang masih mengumpulkan nomor plat BRT yang tarif mahasiswanya Rp15ribu. Bukti itu akan kita sampaikan dan bawa ke Pak wali agar kiranya ditindaklanjuti,” tuturnya.
Dengan apa yang dialami mahasiswa tersebut, Galih berharap agar kiranya pemerintah secara langsung melalui Dishub atau pihak yang berwenang memantau ongkos yang ada dilapangan. “Kami juga berharap perusahaan Damri menugaskan orang yang benar-benar bertugas, tidak memanfaatkan situasi seperti saat ini,” ucapnya.
Galih menuturkan, seharusnya tarif mahal tersebut tak terjadi apalagi tak semua mahasiswa berasal dari kalangan berada. “BRT menjadi angin segar bagi para orang tua, dengan harapan pengeluaran kuliah bisa lebih hemat, tapi kenyataannya lain,” tuturnya.
Memang ungkap dia, belum lama ini pihaknya sudah menghadap dan memberikan laporan ke Dinas Pendidikan (Disdik) terkait jumlah mahasiswa yang PP menggunakan BRT. “Awal ada BRT, kita dipanggil untuk dibuatkan kartu khusus tapi belum jadi sekarang masih menggunanakan kartu universitas masing-masing,” ujarnya seraya menambahkan untuk mahasiwa Unsri tercatat 100 mahasiswa yang PP. (05)

News Feed