oleh

Damiyati (74), Tukang Urut, 30 Tahun Nabung Demi Naik Haji

-Metropolis-1.015 views

Sehari Sisihkan Rp20 Ribu, Tak Pernah Pasang Tarif

Bak pepatah, dimana ada kemauan pasti ada jalan. Ini dibuktikan Damiyati. Tukang urut yang bisa naik haji tahun ini. Bagaimana ceritanya?

ANDRIAN PURJA, Prabumulih

WAKTU menunjukan pukul 16.30 WIB. Matahari mulai condong ke Barat. Riuh anak bermain layang-layang bersahutan. “Hahaha. Awas gek putus benang aku,” ucap seorang anak diiringi tawa rekannya yang lain.
Seru. Itulah suasana yang terlihat saat wartawan koran ini menelusuri jalan Nigata RT 02 / RW 01, Kelurahan Anak Petai Kecamatan Prabumulih Utara, Prabumulih untuk menyambangi Damiyati (74) di rumahnya.
Lebih dari 30 tahun berprofesi sebagai tukang urut. Tak menyangka, berkat keuletan dan kesabarannya dia bisa naik haji tahun ini. Dan tercatat salah satu calon jemaah haji (CJH) asal Kota Nanas yang bakal berangkat pada 9 Agustus 2018 nanti.
Ingin tahu lebih dalam cerita masa hidupnya, wartawan koran ini pun berhasil menemuinya. “Iya kak, itu rumah Uwo,” ujar seorang anak yang memberi keterangan di sela-sela ia bermain. Uwo adalah sebutan Damiyati yang akrab dikenal warga sekitar dan pelanggannya.
Tak jauh dari masjid Al Haqqu, terlihat bangunan berbentuk bedeng ukuran 3×6 meter. Ada dua bendeng. Di sebelahnya berdiri bangunan rumah anak dan warga lainnya. Tak ada yang aneh, suasana begitu tenang. Pada kusen pintu tertulis “BUKA/OPEN”. Itu menandakan hari itu Uwo buka praktek urutnya. “Bentar kak ya, nenek lagi kerja,” ucap seorang anak laki-laki kepada wartawan koran ini.
Ya, tidak sulit mencari kediaman Uwo. Janda beranak empat ini tinggal sendirian di bedeng tersebut. Keempat anaknya sudah menikah. Saat ini dia memiliki 14 cucu dan cicit. Dia tidak begitu kesepian. Sebab di sebelah bedeng yang ia tinggali tersebut ada rumah salah satu anaknya yang setia menjaga dan memperhatikannya.
Sekitar pukul 17.00 WIB seorang wanita paruh baya berjilbab biru bermotif garis-garis bunga, berbalut kain keluar dari dalam rumah. “Ayo masuk nak,” ucapnya ramah. Tak lama kemudian koran ini pun masuk dan duduk lesehan di lantai ruang tamu berukuran 3×3 meter. “Di sinilah Uwo tinggal. Sambil buka urut,” terangnya meceritakan kesehariannya di bedeng peninggalan almarhum suaminya.
Raut wajahnya cerah. Senyumnya mengembang. “Inilah rumah Uwo. Kecil tempatnya, di sinilah uwong tinggal dan ngurut sehari-hari,” ucap istri Almarhum Ali Anang. Tidak banyak terlihat barang-barang di ruang rumahnya. Hanya ada sehelai kasur tempatnya ngurut. Lalu sebuah lemari kayu. Di belakangnya ada sebuah ranjang tempat Uwo tidur.
“Kalau di sebelah kiri gudang tempat barang anak Uwo. Sebelah kanan, ada warung sayuran sekaligus rumah anak,” imbuhnya. Setelah mendengar maksud tujuan wartawan koran ini, tanpa ragu Uwo pun mulai bercerita.
Ia mengatakan, jika dirinya mengawali profesinya sebagai tukang urut sejak 1985 silam. Keahlian tersebut diperolehnya turun temurun. “Dari buyut dulu, memang punyo keahlian ngurut. Akhirnyo turun ke aku, kujadike modal untuk hidup,” kata wanita keturunan Sunda tepatnya Dusun Duku Tengah, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat (Jabar).
Sejak kecil, memang memiliki cita-cita berangkat haji. Apalagi, akunya di masa lalu ia pernah khatam al quran dan dipakaikan baju haji. Menurutnya, itulah motivasi dirinya hingga berkeinginan berangkat haji.
“Rata-rata keluarga nenek semuanya jadi haji. Makanya, suatu saat kalau sudah dewasa bisa berangkat haji,” ungkap Ibu dari Maryati, Marlena Sarjono dan Ernawati ini.
Kalau sejak 1985 itulah dirinya mulai menabung. Ia kumpulkan pundi-pundi rupiahnya di sebuah celengan berbentuk kucing. Ia selalu niatkan bisa berangkat haji. “Sehari-hari Rp 20-25 ribu, uang hasil ngurut nenek kumpulkan dan dimasukkan dalam celengan. Sekitar 30 tahun nenk nabung,” katanya lagi.
Ia mulai beraktivitas jam 9 pagi sampai 9 malem. “Nenek biaso ngurut setiap hari,” tukasnya. Ia menyadari, uang didapatnya tidak seberapa. Butuh waktu lama untuk mengumpulkan uang untuk berangkat haji. Tetapi, hal itu tidak menyurutkannya. Bahkan tetap semangat dan penuh keyakinan kalau suatu saat cita-citanya bisa terwujud.
“Supaya terwujud dan selalu diberikan rezeki sang pencipta, nenek rutin solat 5 waktu sebagai bekal naik haji. Tak lupa berdoa setiap sholat supaya naik hajinya terwujud. Lalu, sholat tahajud dan sholat dhuha,” bebernya.
Ternyata, niatnya menabung untuk haji terkadang tak berjalan mulus. Pernah saja, ucapnya jasa urutnya tidak dibayar oleh orang. Tetapi, tak mematahkan semangatnya untuk membantu orang. “Pernah tidak dibayar, tetapi yakin lah. Kan rezeki sudah diatur, Allah SWT dengan cara lain,” katanya. Buktinya, sehari-hari kalau lagi ramai bisa ngurut 4-5 orang. Terkadang malah lebih.
Dalam menejalankan provesinya selama puluhan tahun tersebut, ia tak pernah memasang tarif untuk jasanya. “Seikhlasnya saja. Berapa pun dikasih orang Uwo terima. Kalau deket-deket ini, Uwo jalan kaki. Tapi, kalau jauh ngurut biasonyo, dijemput pake motor atau mobil oleh yang minta urut,” tukasnya.
Rencananya naik haji bareng suaminya, Ali Anang. Tetapi, pada 2009 tuhan Allah berkehendak lain. Sang suami keburu dijemput sang khalik lebih dahulu. Ia sendiri, sebelum suaminya meninggal sudah meminta izin terlebih dahulu.
“Setelah mendapat izin, sekitar 2011 nenek ngutarake niat samo anak (Sarjono, red). Wakut itu, nak berangkat haji. Kato Sarjono, buka lah celengan nenek. Kalo kurang kaget ditambahi,” ingatnya.
Setelah dibuka, ulasnya ternyata uang tabungannya hanya terkumpul Rp 23 juta. Setelah bertanya, biaya mendaftar haji Rp 25 juta. Oleh Sarjono, uang tersebut dicukupi hingga dirinya terdaftar jemaah haji dan berangkat 2018 ini.
“Sudah terdaftar jadi jemaah, nenek terus menabung untuk melunasinya dan juga sebagai bekal naik haji. Awal tahun lalu kalau tidak salah pelunasan Rp 9 juta. Abis itu, nenek anang dibakdalke haji jugo. Lah bayar Rp 6 juta,” rincinya.
Bisa berangkat haji tahun ini, jelas menjadi kebanggaan sekaligus rasa syukur kepada Allah. “Mudah-mudah diberikan kesehatan selalu hingga sampai waktunya berangkat, supaya bisa menjadi haji yang mabrur,” impiannya.
Sarjono salah seorang anak Uwo mengaku bahagia karena sang ibunda bisa mewujudkan impian dan cita-citanya yang telah lama. “Sejak awal, nenek punyo niat naek haji. Kito dukung, ampir tiap ari memang nenek rutin nabung. Nyisihke duitnyo dari hasil ngurut,” ucapnya.
Seingatnya, ibundanya memang awalnya berencana berangkat dengan bapak. Tetapi karena bapaknya meninggal sakit pada 2009. Akhirnya, ibu mendaftar sendiri 2011 silam.
“2011, nenek ngomong nak daftar haji. Pas buka celengan punyo duit Rp 23 juta, pas daftar ternyata Rp 25 juta. Makonyo, kutambahi Rp 2 juta biar cukup,” akunya.
Sebagai anak, dirinya berharap agar ibunya bisa berangkat haji dan bisa menjalankan ibadah tersebut dengan baik. Sehingga, bisa menjadi haji mabrur. “Semoga nenek sehat selalu. Supaya biso berangkat dan jalani haji ditanah suci. Balek jadi haji mabrur,” terangnya.
Uwo juga dikenal baik dan sering membantu warga sekitar dan pernah menggunakan jasanya. Salah satunya, Nurmiati (50). Ia mengatakan, Uwo dikenal orang yang mudah sekali dimintai tolong.
“Dibayar sekedarnyo, dio dak pernak nolak. Kalo dekat memang sering datang dewek bejalan, kalau jauh memang galak dijemput,” akunya.
Kabar dirinya naik haji pun sudah tersiar di kalangan warga. Nurmiati mengaku bahagia atas berangkatnya Uwo ke tanah suci. “Iyo, katonyo Uwo naek haji tahun ini. Alhamdulillah, cito-citonyo kesampean jugo,” doanya.
Menurutnya, Uwo tidak hanya pandai mengurut orang dewasa. Tetapi, begitu juga anak bayi atau balita. Ungkapnya banyak sekali warga yang menggunakan jasanya. “Uwo itu orangnya telaten mengurut, sehingga wajar banyak yang make jasanyo,” tukasnya.
Tak jauh berbeda, diutarkan Sunarsi, istri Ketua RT 02 RW 01. Kalau, Uwo orangnya baik. Selain memiliki keahlian mengurut, ia juga berjualan sayur mayur, dan jualannya pun selalu laris. “Bukan bae ngurut, terkadang banyak jugo wong minta tolong ngelaherke dengan Uwo. Dio jugo pacak nolong,” sebutnya.
Ucapnya, setiap kali mengurut Uwo memang tidak menentukan tarif. Sehingga, warga pun tak sungkan untuk menggunakan jasanya. “Rela dibayar sekedarnyo, berapo pun dienjuk wong diterimonyo. Sehingga, wajar rezekinyo murah dan biso naek haji. Kito ikut senang, semoga Uwo bisa jadi haji mabrur,” tuturnya. (*)

News Feed