oleh

Beruang Terkam Petani Karet

-Metropolis-371 views

PRABUMULIH – Seorang petani karet bernama Inalwi, kemarin (2/4) pagi dilarikan ke RS AR Bunda dengan luka cukup parah di bagian kaki sebelah kanan.
Petani karet yang tercatat sebagai warga jalan Tenggamus Kelurahan Muara Dua Kecamatan Prabumulih Timur digigit seekor beruang madu saat berkebun di KM 10 Desa Karangan Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT) sekitar pukul 09.00 WIB.
Inalwi yang dibincangi Prabumulih Pos menuturkan, sebelum kejadian ia tengah menyadap karet di kebunnya. Saat itu, ia mendengar suara aneh dari balik semak-semak disekitar kebunnya.
Karena rasa penasaran, pria 41 tahun itu kemudian mencoba mendekati sumber suara. Namun ketika menyibak semak-semak itu, sesosok beruang berwarna cokelat dengan mulut berwarna putih yang muncul di hadapannya.
Sejenak, Inalwi sempat berhadap-hadapan dan bertatap muka langsung dengan beruang tersebut. Namun setelahnya, berunga tersebut langsung mengejar. “Pas jingok didepan lah ado beruang, posisi kami berhadapan. Beruangnyo besak sebesak karung goni, warnonyo hitam mulutnyo putih,” ujarnya.
Inalwi yang ketakutan langsung berlarian menghindar. Ia lari sekuat tenaga untuk menghindari beruang tersebut. Ia bahkan sempat berupaya naik ke sebuah batang karet seukuran paha orang dewasa untuk menyelamatkan diri. Namun tak disangka, beruang itupun ikut memanjat pohon.
Saat memanjat itulah, kaki sebelah kanan Inalwi sempat terpeleset. Beruang yang jaraknya sudah begitu dekat langsung menyabar kakinya. Taring tajam sang beruang sempat bersarang di telapak kaki kanan korban.
“Beruang itu ngejar, langsung aku manjat batang karet dekat tempat nakok itulah. Tapi beruang itu melok manjat jugo, oleh pake sepatu bot licin jadi campak kaki langsung digigitnyo. Beruangnyo langsung lari untung bae ado sepatu bot,” terangnya seraya mengaku sudah beberapa kali mendengar suara beruang di kebunnya namun baru pertama kali melihat secara langsung.
Inalwi yang kesakitan dan ketakutan kemudian menjerit minta pertolongan. Jeritannya itu akhirnya didengar oleh M Rofi-petani karet yang kebunnya bersebelahan dengan kebun korban. Dan sekelebat, M Rofipun datang membantu. Dan kedatangan M Rofi akhirnya membuat beruang tersebut lari ke dalam hutan dan meninggalkan korban dengan kaki mengalami luka. “Ditolong M Rofi kawan sebelah kebun, oleh banyak darah langsung diantar balek,” ucapnya.
Harjono kakak ipar korban menambahkan, keberadaan beruang di perkebunan karet tersebut memang sudah sangat meresahkan. Apalagi memang, sejak beberapa akhir ini beruang sering menampakkan diri. Tak hanya itu, belum lama ini seorang petani karet juga telah dicakar oleh beruang di kawasan yang sama.
“Ibu-ibu lagi nyadap jugo kemarin dicakar, tapi idak sampai masuk rumah sakit. Sekarang memang lah buat resah, sebenarnyo lah lamo ado beruang ado jugo harimau disano namonyo masih hutan. Tapi dulu idak pernah ganggu, sekarang ini mulai ganggu kito juga warga cemas,” terang ketua RW di Kelurahan Muara Dua ini.
Apalagi ungkap dia, rata-rata warga Kelurahan Muara Dua memiliki perkebunan karet di kawasan tersebut. “Hampir punyo wong muara duo galo kebun disano, wajarlah takut sebab khawatir sampai ado korban lagi. Ini bae beruntung pakai sepatu bot, kalau idak biso putus kaki,” lanjutnya.
Bersama warga lainnya, Harjono berharap agar aparat kepolisian untuk mengatasi keberadaan beruang liar yang meresahkan. Sebab kata Harjono, warga tak mampu mengambil tindakan terlebih untuk memburu beruang. “Kami warga serba salah, berburu tidak mungkin beruang itukan dilindungi takut kesalahan. Terus nak diburu jugo make apo, dak ngerti kalau polisi atau pihak yang berwenang mungkin biso, dan kami berharaplah beruang diamankan,” harapnya.
Kepala Desa Karangan Kecamatan RKT Salyadi Susanto SPd mengaku, belum mengetahui informasi tersebut. Hanya saja, memang dirinya mengakui, keberadaan beruang maupun harimau masih ada di Desa Karangan. “Memang masih ada, kalau beruang adalah sekitar 1-2, termasuk harimau. Karena memang disana wilayahnya masih hutan besar dan hutan tua. Tapi selama ini tidak menganggu,” tukasnya menambahkan untuk perkebunan di KM 9 dan KM 10 rata-rata milik warga Muara Dua dan Sukaraja.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Drs Syamsurizal SP MSi melalui Kabid Peternakan dr Hj Nora Gustina menduga beruang tersebut merupakan beruang madu. “Kalau dari cirinya hitam dab mulut putih itu beruang madu, dan memang itu dilindungi,” beber dr Nora.
Disinggung mengenai gigitan beruang, apakah akan menyebabkan rabies atau berbahaya? “Bisa tetanus jika tidak cepat, kalau rabies tidak. Karenanya kalau terkena gigitan atau cakaran beruang harus cepat ditindak, yakni cuci bersih usahakan dengan sabun, siram alkohol atau bawa langsung ke RS,” sambungnya.
Lebih jauh, dirinya menambahkan terkait kejadian tersebut pihaknya tak memiliki kewenangan. Sebab beruang masuk dalam kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumsel. “Hewan beruang masuk ke balai Konservasi Provinsi,” ucapnya. (08)

News Feed