oleh

Ajang Adu Gengsi, Nyawa Jadi Taruhan

Aksi balapan liar seakan sudah jadi tradisi pada sebagian anak muda. Tak hanya ada di kota-kota besar melainkan menular ke daerah seperti halnya Prabumulih. Mereka seakan tak memperdulikan keselamatan nyawanya hanya lantaran adu gensi dengan nilai taruhan tak seberapa. Bagaimana aparat menyikapinya ?
=================
DERU suara mesin sepeda motor membuat bising telinga. Kuda-kuda besi meraung siap bertarung. Fenomena ini kerap dijumpai menjelang magrib, tengah malam hingga fajar. Ironisnya, motor ini diadu bukan di lintasan balap atau sirkuit, melainkan di jalanan umum yang berdampak pada pengguna jalan lain. Kondisi inilah yang membuat resah masyarakat.
Trek-trekan liar ini tak hanya terjadi di kota-kota besar, namun juga di wilayah kota Prabumulih. Bahkan, kegiatan ini sudah dilakukan remaja selama bertahun-tahun. Gairah memacu motor kian tak terbendung ketika memasuki bulan romadon tiba. Salahnya, prilaku tersebut dilakukan di jalur terlarang yakni jalan umum yang seolah menjadi sirkuit bagi mereka.
Geram melihat ulah pembalap liar, pada (4/6) lalu sekitar pukul 05.00 WIB anggota Polres Prabumulih di bawah pimpinan Kabag Ops, Kompol Andi Supriadi SH SIk MH mengamankan 66 unit sepeda motor. Tak hanya itu, petugas juga mengamankan 61 orang yang terlibat dalam aksi balap liar serta 39 orang penonton di lokasi tepatnya kawasan Jalan Jendral Sudirman depan kantor Disnaker kota Prabumulih.
Penelusuran Prabumulih Pos, beberapa titik kawasan Jalan Jenderal Sudirman menjadi lokasi balapan liar. Seperti waktu sahur dimanfaatkan untuk beraksi di sekitaran Simpang Bawah Kemang, kawasan depan Bank Sumsel Prabumulih, kawasan depan Kantor BLK Prabumulih maupun kawasan Jalan Lingkar Timur tepatnya depan RSUD Prabumulih.
“Jalan Sudirman itu lurus. Inilah yang dijadikan lokasi untuk drag. Tapi jalur ini jarang sepi dari pengguna jalan, yang membaut kami harus atur waktu beraksi,” ujar JN (29), warga Jalan Padat Karya, Gunung Ibul, Prabumulih Timur yang merupakan salah satu peserta klub motor yang kerap balap liar di jalanan umum di Prabumulih.
Menurutnya, dalam dunia drag ada beberapa kriteria balap motor. Seperti dilihat dari spike motor atau CC motor. “Macam-macam mas kriterianya. Kayak balap standar, bebas, dan umur. Nah, kalau standar itu motor yang digunakan tidak merubah setingannya,” terangnya.
Dilanjutkan, kalau kriteria bebas, motornya dapat di seting secara bebas oleh mekaniknya. Untuk kriteria umur itu mekanik dapat merubah setingan motor sesuai dengan kesepakan yang dibuat dengan lawan balapannya. Mengenai lokasi untuk ajang balapan liar? RN mengatakan hal itu tergantung kondisi dan keadaan. Karena kata dia, untuk balapan kondisi jalan harus sepi dan lurus.
“Saat balapan juga jangan sampai ketahuan polisi,” ujarnya. Sebenarnya kata dia kalau taruhan di sini sudah jarang dilakukan. Sebab untuk menentukan lokasi jalanan sepi dan lurus itu di Prabumulih sulit. Sementara penghoby balapan liar di kota ini cukup banyak. Ia pun menyebut dalam sistem taruhan dilakukan dengan cara klub. Yakni, yang menang akan berkumpul di suatu tempat yang sudah disepakati untuk pembagian uang hasil taruhan.
“Pengennya sih kita dapat wadah yang bisa untuk mengembangkan hobi dan bakat kita. Karena ini kegiatan yang positif bila ada pendampingnya mas. Kami harapkan juga dukungan pemerintah kota di Prabumulih agar terealisasi,” paparnya. Dari jumlah uang taruhan yang dihasilkan, sambung dia, dibagi rata untuk balik modal anggota klub yang ikut menyumbang untuk pertandingan.
“Dan 20 persen sisanya biasanya diberikan untuk mekanik dan joki. Tapi untuk sekarang ini sudah nggak lagi. Sekarang ini kebanyakan lebih melihat kekuatan laju motor mas,” imbuhnya.
Senada disampaikan Ronny, pria berusia 39 tahun ini merupakan mantan pebalap liar yang kini telah memiliki istri dan anak. Saat ini, ia memiliki usaha membuka sebuah bengkel motor di kawasan Gunung Ibul. Mengenai balap liar yang terus dilakukan kalangan usia muda di Prabumulih, menurut Ronny, pembalap liar seakan ada kebanggaan tersendiri bila dapat memenangkan sebuah adu kecepatan di lintasan terlarang (jalanan umum, red).
“Si joki yang mempunyai trik mengendarai motor dan mekanik motor yang cerdas dalam memperhitungkan motor modifikasi,” ucapnya. Suka duka yang dilalui pembalap liar seperti kerugian materi pun, lanjut dia, sudah biasa mereka rasakan dan karena itu akan memacu mereka agar lebih baik. Pastinya imbuh dia, pebalap liar yang dicari hanyalah kepuasan belaka. Menghabiskan budget banyak tetapi hasilnya tidak sepadan dengan apa yang sudah dikorbankan.
Sementara Andika (48) salah seorang mantan mekanik klub motor liar asal Jawa Barat yang berhasil ditemui Prabumulih Pos menuturkan, kebanyakan klub balap liar menggunakan cara tersebut karena mudah dan murah. Sedangkan balapan yang profesional harus mengeluarkan budget yang sangat banyak dan melalui proses sulit. “Yang dicari hanya kepusan batin aja mas,” ujar pri yang tinggal di kawasan Jalan RA Kartini, Kelurahan Sukajadi, Prabumulih Timur ini.
Ia mengatakan, mungkin beberapa orang menganggap balap motor liar ini dinilai negatif. Karena dianggap tidak ada manfaatnya atau bisa merugikan. Tapi, bagi beberapa orang yang menyukai otomotif khususnya motor drag menjadi sebuah ajang untuk mengetahui sampai dimana kemampuan yang diperoleh dengan mengadakan balapan motor. “Bagi pembalap yang sudah terlatih tentu mereka mempunyai sebuah wadah untuk mengembangkan kemampuan mereka,” tuturnya.
Tapi kalau dilihat di sisi lain, para pembalap yang belum mempunyai wadah untuk mengeluarkan skill mereka akhirnya memilih jalanan umum dijadikan lintasan seperti yang terjadi di kota Prabumulih. Munculnya para pembalap liar di kota-kota hingga ke pelosok daerah terpencil sekalipun bermula dari seseorang yang mempunyai hobi memodifikasi motor dan mempunyai mekanik. Kemudian bengkel motor yang mereka percaya dapat membuat motor menjadi ringan dan dapat memacu kecepatan tinggi.
“Nah kalau motor yang sudah digarap sesuai dengan yang diinginkan sang pemilik, biasanya untuk mencari lawannya itu yang biasanya klub motor lain suka nongkrong,” terangnya.
Lalu sang penantang ini biasanya memberi tanda dengan mengelilingi arena lokasi agar menjadi perhatian klub lain, terkadang dari kelompok lain akan menghampiri. Selanjutnya terjadi kesepakatan untuk bertanding sebuah taruhan dan kriteria pertandingan yang sudag disepakati masing-masing. “Di Prabumulih patrol oleh petugas sangat sering, terkadang sulit cari lokasi. Akibatnya suka kucing-kucingan,” imbuhnya. (mg03)

News Feed