oleh

Afifah Butuh Uluran Tangan

PRABUMULIH – Pepatah kasih ibu sepanjang masa, nampaknya pas buat Yuliani Dadi (30), warga Jalan Kapten Abdullah No 3464 RT 25 RW 09 Kelurahan Mangga Besar (Mabes), Kecamatan Prabumulih Utara.

Ia bersama suaminya Kamil Musdik (32), kini berjibaku merawat putri keduanya Afifah Fityah Al Kamil (0,6) yang kini menderita hydrocepalus sejak umur sebulan.

Tidak sedikit memang biaya perawatan harus mengobati putri kesayangan tersebut. Namun sayangnya, kondisi ekonomi pas-pasan membuat keduanya hanya mampu merawat putrinya tersebut dirumahnya secara mandiri.

Kondisi Afifah sendiri sangat memprihatinkan. Kepalanya membesar sebesar semangka, sedangkan tubuhnya tinggal tulang hanya bisa terbaring lemah ditempat tidur di rumah orang tuanya.

Yuli, begitu sapaan akrabnya mengisahkan, awalnya putri keduanya lahir normal pada 14 Mei silam dengan berat 2,7 Kg dan panjang 55 Cm. Nah, setelah sekitar 5 hari lahir secara sesar di RSUD. Anaknya menderita panas tinggi, sempat dirawat sekitar seminggu di rumah sakit tersebut dan sembuh.

“Namun menderita kejang-kejang. Akhirnya, dirawat kembali. Ketika kejang, seingat saya disuntik cairan oleh dokter. Baru anak saya berhenti kejangnya,” akunya kepada koran ini.

“Sejak mengandung tidak ada masalah dan memang rajin konsul, hanya saja ketika kandungan berumur 8 bulan memang ada sedikit gangguan tembuninya berada dibawah. Hingga akhirnya, anak kedua saya terpaksa lahir secara sesar,” tambahnya.

Belakangan, diketahui dari kepalanya keluar cairan. Setelah, di citiscan di RS AR Bunda dirujuk dari RSUD. Barulah ia berobat ke Palembang, sebelum itu cukup lama mengurus BPJS Kesehatan untuk bekal berobat.

“Hingga akhirnya, setelah tiga minggu kemudian sekitar Juni. Dioperasi pertama dokter di RSMH Palembang. Operasi pertama, kepala anaknya masih normal-normal saja,” ucapnya.

Berselang sebulan kemudian, lalu anaknya menjalani operasi kedua. Nah, operasi kedua inilah membuatnya dan suami trauma. Bukannya sembuh anak kesayangannya, malah membuat kepalanya semakin besar.

“Kondisinya berlanjut hingga sekarang, melihat Afifah sangat memprihatinkan. Kepalanya membesar, tubuhnya kurus tinggal tulang belulang,” jelasnya.

Dengan keadaannya itu, ia mengharapkan bantuan khususnya dari Pemerintah kota (Pemkot). Untuk biaya pengobatan buah hatinya, sehingga bisa sembuh dan seperti anak normal lainnya.

“Memang telah ada yang bantu sejauh ini, kita ucapkan terima kasih. Kita sangat berharap sekali perhatian Pemkot, untuk pengobatan anak kita,” harapnya.

Diakuinya, memang telah ada perwakilan Dinas Kesehatan (Dinkes) mendatanginya melakukan pengecekan. “Minggu kemarin, perwakilan petugas Dinkes sudah datang ke rumah mengecek. Mudah-mudahan ada tindaklanjutnya,” tandasnya.

Sementara itu, Walikota (Wako), Ir H Ridho Yahya MM menyebutkan, untuk menangani bayi penderita hydrocepalus. Ia telah berkordinasi dengan Dinkes, dan telah meminta menurunkan petugas.

“Temuan tersebut sudah kita sampaikan ke Kadinkes, untuk tindaklanjutnya. Yang jelas, kita bantu pengobatannya,” ujar orang nomor satu di Kota Nanas ini.

Sementara itu, Kadinkes, dr H Happy Tedjo TS MPH mengatakan, segera menerjunkan tim medis. Khususnya, dari puskesmas terdekat untuk membantu perawatan medis.

“Seperti penanganan pasien rujukan, pasien dirujuk ke RSUD. Nah, dari RSUD sesuai penanganan Hydracepalus sebelumnya bisa dirawat jalan bila tak ada gangguan makan. Jika sudah siap, untuk operasi baru dirujuk ke RSMH. Ini bukan kasus gawat darurat,” bebernya.

Lanjutnya, perlu ditelusuri juga kasus sosialnya. Ini akan ditanyakan ke Dinas Sosial (Dinsos), supaya jangan tumpang tindih. “Dinkes hanya mengurusi masalah medisnya, masalah sosialnya tanggung jawab Dinsos,” ucapnya.

“Anak itu sudah dioperasi 2 bulan lalu, perlu terlebih dahulu kontrol ulang ke RSUD khususnya dokter spesialis anak. Tim Pelyanan Kesehatan (Yankes) Dinkes sudah mengecek,” pungkasnya. (03)

News Feed