oleh

41 Penumpang Dinyatakan Tewas

MOSKOW – Pyotr Egorov sport jantung. Dia ketakutan ketika pesawat Sukhoi Superjet 100 milik maskapai penerbangan Aeroflot yang ditumpanginya mendarat darurat di Bandara Internasional Sheremetyevo pada Minggu petang (5/5). Terlebih, burung besi itu baru saja disambar petir setelah lepas landas.

“Pendaratannya tak mulus. Kami hampir meninggal ketakutan,” terang Egorov sebagaimana dikutip AFP, Senin (6/5). Benar saja, dari hasil rekaman kamera amatir yang beredar di media sosial, pesawat itu tampak meliuk saat hampir mendarat di landasan.

Setelah itu, ia mendarat. Namun, bagian ekor sempat menyapu landasan dan terbakar. Dalam hitungan detik, api merambat dari belakang ke depan. Jilatan api menyebar begitu cepat hingga ke hampir separo badan pesawat. Imbasnya, 41 orang dinyatakan tewas.

Pesawat tersebut hanya berisi 73 penumpang dan lima kru pesawat. Mereka yang berhasil lolos dari maut keluar dengan seluncuran karet di pintu darurat. Sembilan orang akhirnya dibawa ke rumah sakit. Kondisi tiga korban di antaranya kritis.

Senin wilayah Murmansk mengumumkan tiga hari masa berduka. Mayoritas korban berasal dari wilayah tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin juga ikut berbelasungkawa.

Pilot Denis Yevdokimov yang mengendalikan pesawat nahas itu mengakui, kilat memang menjadi pemicu kecelakaan tersebut. Pesawat itu terbang dari Bandara Internasional Sheremetyevo pada pukul 18.02 menuju Murmansk. Namun, tidak berselang lama ada kilatan petir yang mengakibatkan komunikasi radio dengan air traffic controller (ATC) terganggu.

“Kami berusaha memperbaiki komunikasi melalui jalur darurat dan koneksi radio. Tapi, sambungannya hanya jangka pendek dan putus-putus,” jelasnya saat diwawancarai media cetak Komsomolskaya Pravda.

Pemerintah Rusia langsung mengirim tim khusus untuk menyelidiki jatuhnya pesawat tersebut. Kotak hitam pesawat nahas itu juga sudah ditemukan. Kini kotak tersebut dianalisis untuk mengetahui persis apa saja yang telah terjadi pada Sukhoi Superjet 100 tersebut. Hingga saat ini, tim khusus itu menyatakan bahwa penyebab utamanya adalah masalah teknis. (sha/reu/ful/fin)

Komentar

News Feed