oleh

100 EKOR RUSA DIKULITI

JAKARTA – Pengungkapan kasus perburuan ilegal dengan barang bukti 100 ekor rusa yang telah dikuliti di Pulau Komodo menjadi, Minggu (30/12) menjadi bukti bahwa, kondisi Indonesia kian krisis terhadap hewan langka.

Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Dwi Sawung angkat bicara terkait hal ini. “Indonesia makin kronis, Indonesia makin krisis. Ini operasi besar, dan bukti masifnya pemburuan,” terangnya.

Kasus perburuan hewan secara ilegal di Pulau Komodo cukup disayangkan. Sebagai kawasan konservasi, kawasan Pulau Komodo semestinya memiliki penjagaan yang ekstra. “Kami apresiasi langkah Polri,” terangnya.

Sawung berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pihak pengelola hutan dan aparat keamanan. Bukan hanya di Pulau Komodo, melainkan juga di kawasan konservasi lainnya.

“Dari aspek aturan, regulasi yang ada sudah cukup baik dalam hal perlindungan hewan. Hanya saja, dalam implementasinya masih perlu dibenahi,”timpalnya.

Sebelumnya, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa awalanya seorang anggota Brimob Papua yang sedang cuti Ipda Suriadin mendapatkan informasi dari warga adanya bongkar muat rusa hasil buruan. Tim meluncur ke lokasi di Pantai Torowamba, Desa Poja, Kecamatan Sape, Bima.

Pemburu coba diringkus. Tapi ternyata mencoba untuk membujuk petugas untuk membebaskannya dengan menyuap. Dengan memberikan tawaran 10 ekor rusa dan uang Rp20 juta. “Untungnya petugas tidak tergiur,” terangnya.

Dari peristiwa ini, petugas juga berhasil mengamankan dua senjata laras panjang, yakni mouser dan SS-1. Kedua senjata ini telah dimodifikasi untuk berburu. Ada juga amunisi 5,56 mm sebanyak delapan butir. (fin/ful)

News Feed